Mengenang Bapak Yang Telah Tiada

Aku rindu lelaki itu
Lelaki yang mencintaiku
Menjelang senja Dia selalu terlihat menawan
Dengan sarung, baju koko dan peci putih
Aku rindu lelaki itu
Lelaki yang menyanyangiku
Di setiap subuh Dia yang duluan bangun
Bersiap ke kebung untuk pertahankan hidup keluarganya
Aku rindu..
Rindu sekali..
Lelaki tua itu..
Bernama Bapak.

Pada saat saya buat tulisan ini, mataku tak sanggup menahan cairan yang sejak tadi berkaca, hati ini begitu berat menanggung beban kerinduan yang entah pada siapa harus saya curahkan, kecuali pada Tuhan hanya Doa yang bisa dipanjatkan.

Saya juga bingun memulai dengan kalimat apa, biarlah mengalir apa adanya, sebab dalam tulisan ini saya hanya ingin mengenang dan menyampaikan kerinduanku pada seorang ayah yang telah tiada.

Dirumah kami memanggilnya Bapak, lelaki tangguh itu katanya pernah sukses di tahun 80-an, mungkin saya satu-satunya anak yang tidak menikmati kekayaan yang pernah bapak miliki pada saat itu.

Tapi saya tidak menuntutnya, karena cinta dan kasih sayang yang diberikan pada saya sudah cukup dari segalanya. Bapak itu tidak pernah pelit, buktinya saat beliau berada pada puncak kejayaan bisa membantu banyak orang. Tapi ya namanya hidup tidak mesti harus diatas kan? Setelah usahanya bangkrut, bapak kembali mengurus kebung pala, cengkih, manggis, langsat coklat, beberapa pohon kopi dll, Kebung dan tanah warisan bapak cukup luas, entah berapa ukurannya saya kurang tahu pasti, maklumlah karena saya anak perempuan paling bungsu kurang peduli dengan hal-hal begituan. Sesekali juga bapak dengan perahunya kelaut untuk menangkap ikan meski harus menerjang ombak, melewati angin dan menabrak hujan, namun semangatnya tak pernah mati.

Bapak Yang Baik Hati

Yang paling saya ingat dulu waktu SD setiap kali mau panen hasil kebung, bapak sering bilang nanti ajak teman-teman sekolah ya, senangnya saya bisa ngajak teman-teman se-kelas, bahkan sampai berada di tingkat SMA pun demikian, kalau bukan teman-teman sekolah yang diajak, Bapak itu pasti ngajak anak-anak tetangga buat panen bareng. Jadi semuanya bisa merasakan hasil panen kami.

Tahun 2003 saya masuk Perguruan Tinggi tepatnya di Universitas Pattimura Ambon, Bapak sebenarnya pengen saya ngambil jurusan Bahasa Inggris alasanya karena beliau ingin salah satu anaknya jadi Dosen Bahasa Inggris, tapi saat itu saya sedikit keras kepala tidak mau nurut kemaun Bapak. Karena saya pengen kuliah di Makassar biar bisa ngambil jurusan Sastra Indonesia, sejak dulu cita-cita saya pengen jadi Sastrawati, namun karena kakak-kakak saya juga sudah tidak tinggal dirumah, ada yang telah menikah, ada juga yang sibuk kerja dan satu kakak saat itu masih mahasiswa tingkat akhir , jadinya tinggallah kami bertiga saja, sehingga saya tidak diijinkan untuk keluar kota. Maka saya pun mengambil Jurusan Kimia Fakultas MIPA, meski tidak begitu mendapat respon dari Bapak, tapi saya selalu meyakinkannya bahwa kelak nanti saya pasti bisa membuatnya bangga.

Sejak menjadi mahasiswi saya jarang pulang kerumah, karena lebih banyak aktif di beberapa organisasi Intra dan ekstra kampus, selain sibuk jadi aktivis kampus saya juga sibuk mengajar di Yayasan Al-Wathan Ambon dan juga memberi kursus computer pada Yayasan Puslatmi Inovasi milik Pengurus Muhammadiyah Maluku. Kesibukan itulah yang menggangu kuliah saya, hingga saya mengalami keterlambatan untuk menawarkan mata kuliah wajib KKN (Kuliah Kerja Nyata).

Tahun 2008, barulah saya bisa melaksanakan KKN, salah satu mata kuliah yang menjadi prasyarat untuk mengusulkan proposal penilitian. Hal itu saya sampaikan pada Bapak, dan tahukan anda, saya melihat pancaran kebahagiaan tergambar di raut wajahnya, beliau tersenyum bahagia dan langsung mengajak saya belanja perlengkapan KKN, itu untuk pertama kalinya saya diajak oleh Bapak jalan-jalan sambil belanja, saking bahagianya bapak itu sampai bilang gini, Rus mau perlu apa untuk KKN bilang saja, nanti Bapak beli semuanya”,. Ach saya begitu terharu, padahal lokasi penempatan KKN belum juga ditentukan oleh pihak kampus.

Bapak begitu semangatnya membeli keperluan saya selama sebulan. Mungkin dalam benaknya saya akan ditempatkan pada Kabupaten yang jauh dari pusat kota, ech ternyata hasil yang kami lihat dari deretan daftar mahasiswa KKN, nama saya tercantum di wilayah Teluk Ambon saja, tepatnya Desa Nania yang tak jauh dari Kampus kami, kurang lebih 20 menit lamanya jika menggunakan angkutan umum.

Satu hal lagi yang paling saya ingat kebaikan Bapak itu, jika saya pulang kerumah sering ngajak teman-teman aktivis untuk main bahkan sampai nginap, Bapak itu senang sekali kalau saya datang ngajak teman, terkadang beliau suka nitip pesan ke teman-teman, “nanti jagain rus e”,. Nah kayak gitu cara Bapak perlihatkan cintanya, beliau suka nitip saya ke teman-teman biar saya dijagain. Kadang sebel juga dianggap seperti anak kecil. Meski demikian, Bapak, Ibu dan Kakak selalu memberi dukungan pada saya.

Jadi Fansnya Bapak

Usai menyelesaikan KKN saya tidak langsung mengusulkan proposal penelitian, jiwa dan pikiran saya masih muter-muter diluar kampus, buat kegiatan organisasi, punya kerja sampingan di sekolah dan lembaga kursus komputer. Karena saya tipe orang yang tidak bisa jadi mahasiswa saja, saya suka hal-hal baru penuh petualangan. Hingga pada tahun 2010 saya coba lagi profesi baru, ya hitung-hitung cari pengalaman, kebetulan ada salah satu media cetak di Ambon yang buka lowongan kerja, namanya Korang Spektrum Maluku, Alhamdulillah saya diterima, dan sejak saat itu Bapak mulai suka dengan tulisan saya.

Kalau pulang kerumah, Bapak itu pasti nanya, “mana korang?, mana beritamu?”, dan saya pun menunjuk di halaman sekian, padahal tulisan saya tidak begitu bagus, karena masih jadi pemula juga, mungkin bapak suka cara saya, beliau juga memberi dukungan, jika ada hal-hal baru Bapak sering bilang,coba kamu buat tulisannya lalu muat di media. Bapak tidak hanya memberi dukungan pada hoby saya saja, tapi juga memberi dukungan dan kepercayaan pada siapa saya berteman, Kalau ada teman-teman wartawan dan fotografer yang main kerumah, Bapak pasti senang, bahkan pernah bilang teman-teman saya itu istimewa (ach Bapak itu lucu ya..?).

Pesan Bapak Yang Tidak Terlupakan

Waktu pun berlalu, sampai tahun 2011 saya dapat gelar Sarjana Sains (S.Si.,), Dua bulan setelah digelarnya acara wisuda saya ditawarkan untuk kerja pada Unit Pengelola Kegiatan (UPK) PNPM Mandiri Perdesaan Kecamatan Leihitu sebagai Sekertaris, awalnya saya agak ragu untuk terima tawaran tersebut, namun setelah saya diskusikan dengan kedua orang tua ternyata mereka menyetujuinya, saat itu Bapak berpesan untuk bekerja dengan hati, jujur serta utamakan hak orang banyak. Saya pun langsung mengajukkan surat pengunduran diri saya sebagai wartawan dari Korang Spektrum Maluku.

Kurang lebih setahun saya bekerja sebagai sekertaris UPK di PNPM Mandiri Perdesaan, saya dipromosikan oleh Fasilitator untuk bisa ikut seleksi Asisten Manajemen Informasi Sistem di PNPM Mandiri tingkat Kabupaten, alhasil saya lolos juga dan pada September 2012 saya langsung dapat Surat Perintah Kerja (SPK) di Kabupaten Maluku Tengah. Saya pun harus meninggalkan orang tua dan teman-teman di Ambon.

Beruntung hanya 11 bulan saya bertugas di Kabupaten Maluku Tengah, karena pada saat itu saya kembali di promosikan oleh seorang teman yang kebetulan adalah salah satu penanggung jawab dari PT. Innerindo sebagai Perusahaan Penggelola Administrasi untuk Kantor Konsultan PNPM Generasi Sehat dan Cerdas Provinsi Maluku.

Alhamdulillah saya bisa kembali, beraktivitas seperti dulu, kerja dan berkomunitas di wilayah Kota Ambon, namun saya lupa untuk kumpul dengan keluarga, begitu egoisnya saya saat itu, karena jarang pulang ke rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor serta menyalurkan hoby bersama teman-teman.

Seiring berjalannya waktu, Ibu saya jatuh sakit dan sering dibawah ke dokter, saat itu barulah saya meluangkan waktu untuk pulang ke rumah. Suatu ketika Bapak memanggil saya untuk membicarakan kondisi Ibu, banyak yang kami bicarakan, namun yang paling saya ingat saat itu, Bapak berpesan agar saya bisa luangkan waktu untuk pulang kerumah jika tidak ada kerjaan di kantor.

“ Rus, kalau tidak ada kesibukkan di kantor pulang sedikit ke rumah, karena rus bisa jadi hiburan di rumah untuk mama”, begitulah permintaan Bapak, mendengar kata-kata itu, hati ini seperti teriris, entah sudah berapa banyak kesempatan yang terlewati, selama ini hanya memikirkan diri sendiri mengejar karir, melakukan hoby dengan teman-teman, meskipun ada banyak hal yang membuat mereka bangga, namun tanpa disadari selama ini saya telah mengabaikan mereka.

Pesan Bapak untuk selalu pulang kerumah, sebenarnya bukan karena Ibu yang sering sakit, namun saya yakin bahwa Bapak juga merindukkan anak-anaknya untuk selalu berkumpul dirumah. Hingga pertengahan tahun 2015 bapak jatuh sakit, beruntung kakak perempuan saya yang sulung adalah seorang Bidang sehingga orang tua kami dengan mudahnya bisa dirawat.

Saat-saat Terakhir Bersama Bapak

Desember 2015, penyakit bapak mulai kambuh, kali ini benar-benar mengkhuatirkan kami sekeluarga, bahkan saudara-saudara Bapak terpaksa harus menginap dirumah untuk menemani Bapak yang sakit. Pada tanggal 11- 14 Desember 2015 lalu, saya sedang berada di Jakarta untuk mengikuti Kopi Darat terbesar Para Blogger di Indonesia yang di laksanakan oleh Kompasiana.com salah satu media warga, kegiatan bergensi itu dinamai Kompasianival atau Festival Kompasianer, sebenarnya kegiatan itu hanya berlangsung selama dua hari terhitung sejak tanggal 11-12 Desember 2015, namun kami sengaja menambahkan waktunya untuk beberapa keperluan yang harus diselesaikan di Jakarta.

Tepat malam rabu (14 Desember 2015) telpon genggam saya berbunyi, rupanya ada panggilan dari nomor kakak perempuan, setelah saya angkat, pertanyaan pertama yang ditanyakan melalui telpon genggam itu adalah kapan pulan ke ambon?, dan beginilah percakapan kami:

Kakak ; “ Rus kapan pulang?, bapak sekarang sakit keras, dari tadi tanya-tanya rus terus,”

Saya : “besok pagi sudah pulang kok”, bapak Tanya gimana?”, saya kembali melontarkan pertanyaan.

Kakak : “bapak Tanya, kenapa rus belum pulang?, kapan rus pulang?”,

Saya : “iya, tolong bilang bapak, besok jam 8 pagi beta sudah di Ambon, karena pesawat dari Jakarta jam 3 waktu Jakarta, di ambon jam 5 subuh.”.

Kakak : “iya, kalau sudah di Ambon, langsung pulang ke rumah e?”. Tegas kakak untuk mengingatkan saya kembali.

Saya : “iya, nanti kalau sudah sampai Ambon, beta langsung ke rumah”.

Dan kami pun mengakhiri percakapan itu, tidak terasa air mata saya langsung berderai di pipi, ingin segera pulang ke Ambon menemuinya. Pada saat itu saya dan beberapa teman yang dari Ambon baru saja melakukan kunjungan ke Kantor Kompas Gramedia Jl. Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Dalam perjalanan menuju tempat penginapan perasaan ini benar-benar sudah tidak enak. Karena ingin segera pulang ke Ambon. Entah kenapa tangan saya pun mulai memencet tombol-tombol telpon genggam, maka jadilah sebuah puisi pendek:

Ayah.. Tunggulah sebentar
Aku akan pulang menemuimu
Ayah… Sabarlah sebentar
Karena malam ini akan berganti pagi
Kita akan bertemu dan bersua
Ayah …Tunggulah dirumah
Karena aku pasti datang
Ada oleh-oleh untukmu, ada salam untukmu
Kau pasti senang, sebab ini salam Presiden
Ayah.., Jangan sebut namaku terus didepan mereka
Karena itu membuatku gelisah Ayah…
Tunggulah sebentar
Aku akan pulang menemuimu
Jakarta, 14 Desember 2015.

Usai memencet tombol telpon gengam saya, barulah perasaan ini legah, tak perduli kalimat yang bagus untuk penyusunanya, namun setidaknya saya sedikit tenang. Bahkan dalam diam pun hati ini terus berdoa untuk kesembuhan kedua orang tuaku.

15 Desember 2015, 08.00 WIT kami tiba di Ambon dengan selamat, saya berencana untuk langsung pulang kerumah, namun 10 menit setelah keluar dari bandara Pattimura saya menerima panggilan lagi dari kakak, dalam percakapannya di telpon dia mengabarkan bahwa bapak sudah dilarikan ke Rumah Sakit Umum Tulehu. Akhirnya rencana pun berubah, semua bawaan dari Jakarta saya taruh di rumah kontrakan dan bergegas menemui Bapak di Rumah Sakit. Setelah sampai dirumah sakit, melihatnya sedang tertidur pulas, namun kakak membangunkannya untuk memberitahu kepulanganku, beliau pun langsung bangun dan duduk, kami sempat bercakap-cakap, dan seperti biasa yang sering saya lakukan di rumah kalau lama tidak bersua bersama Bapak Ibu adalah bercerita tentang aktivitas saya diluar, ya semacam laporan perjalanan dinas gitulah kalau di kantor-kantor. Cuma bedanya laporan ini disampaikan secara lisan.

Melihat kondisinya yang sangat lemah, kurus dan kulit yang sudah keriput, membuat hati ini tak sanggup menahan kepedihan. Namun saya mencoba untuk tetap tegar dihadapannya, saya pun bercerita tentang aktivitas saya di Jakarta selama beberapa hari itu, berharap dengan cerita saya bisa membuatnya bahagia meskipun masih dalam kondisi sakit. Tanpa basa-basi saya langsung menyodorkan foto di Handphoon saya sambil bertanya ke Bapak :

Saya : “Bapak kenal orang ini yang di foto?”

Bapak : “Yang mana”, Tanya bapak.

Saya : “itu yang lagi duduk, pakai kemeja putih”

Bapak : “itu kayak Jokowi?”, Tanya bapak namun sedikit ragu, dalam hati saya senang, karena penglihatan bapak masih jelas.

Saya : “kalau yang lagi bicara di depan mix, pakai baju warna pink, bapak kenal..??”

Bapak : “itu sapa?”, bapak kembali bertanya dengan ragu, namun saya yakin bapak pasti mengenal perempuan berbaju pink yang ada pada foto tersebut.

Saya : “hhhhmmm, itu beta yang pakai baju pink, lagi bicara depan Jokowi, di Istana Presiden”, sambil meyakinkan bapak.

Bapak : “hehehe…”, bapak hanya tertawa sedikit, senyum sedikit sambil keherangan.

Saya : “ iya benar itu beta yang pakai baju warna pink, lagi bicara di depan Jokowi di Istana Presiden”, sengaja saya ulangi meyakinkannya, beharap bapak bisa percaya.

Alhamdulillah, bapak pun percaya sambil menghela nafasnya dalam-dalam, mungkin itu pertanda beliau bangga dan senang atau sesak nafas, entahlah, tapi saya melihat raut wajah yang tadinya sayu berubah menjadi ceria.

Cuma empat hari bapak dirawat di Rumah Sakit Umum Tulehu, setelah itu Bapak kembali ke rumah dan saya pun beraktivitas seperti biasa.

Namun Januari 2016, penyakit Bapak kambuh lagi, padahal kondisi Bapak sudah sedikit baikan, apalagi dengan kepulangan dua kakak perempuan saya, yang satu dari Temanggung Jawa Tengah pulang bersama keluarga kecilnya, dan yang satunya lagi dari Ternate Maluku Utara, sehingga rumah kami kembali diramaikan oleh penghuni baru yakni cucu-cucu Bapak yang semakin bertambah. Saya kira kondisi bapak akan sembuh seperti ibu yang sudah 90% baikan setelah rumah kami dipenuhi oleh anak dan cucu-cucu mereka.

Tanggal 23 Januari 2016, bapak kembali dilarikan ke Rumah sakit Umum (RSU) Dr. Haulussy Ambon, dan sempat dirawat pada ruang Unit Gawat Darurat (UGD) selama empat jam, barulah dipindahkan ke ruang Paru-Paru untuk melanjutkan rawat nginap. Selama di RSU saya tidak pernah nginap untuk menemaninya, karena sudah ada kakak yang menjaganya, saya hanya bisa menemaninya usai jam Kantor sampai pukul 20.00 WIT saja. Sama seperti di RSU Tulehu, bapak tidak betah lama-lama di Rumah Sakit, karena beliau sudah ingin pulang ke rumah, sehingga pada tanggal 26 Januari 2016, kakak saya meminta pada pihak RSU agar bapak dipulangkan dulu.

Tanggal 28 Januari 2016, tepat pukul 21.00 WIT saya mendapat beberapa panggilan melalui telpon genggam dari kakak laki-laki, namun suara telpon tidak terdengar, getaran pun tidak terasa, dikarenakan Handphoon saya tersimpan dalam saku tas hitam yang saya bawah, saat itu juga saya lagi menghadiri jamuan makan malam di kediaman Gubernur Maluku Ir. Said Assagaf bersama Menteri Pendidikan Anis Baswedan dan tokok-tokoh yang peduli dengan pendidikan di Maluku. Saya benar-benar tidak mengetahui adanya panggilan itu, namun setelah ditelpon kembali barulah saya mengetahuinya.

Pada percakapan kami di telpon, kakak saya mengabarkan kondisi Bapak yang semakin parah, dan dia menginginkan untuk pulang kerumah malam itu juga, dan saya pun menyetujuinya.

Hari Terakhir Bersama Bapak

Pada saat sampai dirumah, keluarga Ibu dan keluarga Bapak yang lain sudah dirumah jagain Bapak bahkan ada yang zikir. Perasaan saya biasa saja tak ada firasat buruk apapun, namun keesokan harinya barulah hati ini menjadi gundah.

Jumat, 29 Januari 2016, merupakan tanggal bersejarah yang tidak mungkin terlupakan, pasalnya di hari itu merupakan hari terakhir kami sekeluarga menyaksikan hembusan nafas terakhir Bapak.

Pagi itu, sekitar pukul 09.00 WIT, saya temanin Bapak, mendengarkan semua yang beliau bicarakan, memberinya makan, membelai rambutnya yang sudah memutih, mengusap dadanya yang sering sesak bernafas, Bapak terlihat sangat kurus, hari itu saya tidak masuk kantor, pesan singkat untuk meminta ijin pada atasan sudah saya kirim via WA dan sms.

Ada permintaan aneh dari bapak, katanya ingin dimandiin karena sebentar lagi Bapak mau pulang, berkali-kali Bapak ngomong mau pulang, “sedikit lagi beta mau pulang”, begitu ungkapnya pada kami, bahkan beliau meminta saya mencukur rambutnya sebelum pulang, namun permintaan itu tidak saya indahkan, karena mungkin beliau lagi panas tinggi. Sedang kami hanya bisa membersihkan tubuh Bapak dengan air bersih dan sabun mandi, dari kepala hingga kaki, setelah itu kami masih sempat taburi bedak ditubuhnya sesuai anjuran dokter, agar tubuh bapak terasa segar dan wangi.

Waktu berlalu, hingga pukul 14.00 WIT, orang-orang baru saja menyelesaikan Jumatan, dan kami dirumah sedang mengaji dan zikir. Hingga sekitar pukul 21.45 WIT, bapak sudah berada pada masa-masa kritis, kami semua mengelilinginya. Saya pun tak mau meninggalkan kesempatan itu, saya bacakan Surah Yasin disamping kanan Bapak, sementara Paman saya juga melantungkan zikir disampingnya. Sejak siang itu, Bapak memang sudah melapalkan asma Allah Laaillaha Ilalallah berkali-kali keluar dari mulut bapak, meski tidak begitu jelas.

Sambil membacakan Surah Yasin, mata saya selalu melirik pada tangan Bapak, hingga binar-binar air mata menghalangi pandangan, tulisan arab itu seperti tidak jelas karena mata ini sudah berair, suara lantang saya menurung pelang karena tak bisa menahan kesedihan, saya tak sanggup untuk mengangkat wajah ini, air mata terus berderai membasahi pipi, namun saya tak mau berhenti bacakan kalimat-kalimat Allah. Saya terus melanjutkan Yasinan itu dengan suara terbata-bata.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan pelang mulai mengusik ruangan, tangan Bapak sudah tidak bergerak dan diangkat keatas perut layaknya orang yang tidak bernyawa, Bapak telah meninggal, dan saya masih tidak percaya, satu persatu saya bacakan ayat-ayat suci pada Surah Yasin hingga selesai barulah saya berdiri.

Nampak semua wajah pada saat itu terlihat sedih, lalu saya bertanya, “apa ini sudah selesai..?”, seorang kakak sepupu menjawab pertanyaan saya, “iya, sudah selesai?”, mendegar jawaban itu, seketika dunia ini terasa gelap sekali, melihat Bapak tertidur kaku, kami sekarang dalam hitungan detik langsung menjadi yatim sementara perempuan tua yang duduk di kursi itu menjadi janda.

Saya tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi membasahi kedua pipi ini, ingin berteriak tapi tak bisa, maka pada kamarlah saya berlari dan menangis diatas tempat tidur. Sambil bergetar tangan ini memegang telpon gengam untuk memberi kabar pada semua keluarga yang belum pulang.

Ya, Bapak telah pergi tepat hari Jumat tanggal 29 Januari 2016, pukul 22.02 WIT, saya kehilangan sebagian jiwa dan raga, saya kehilangan seseorang yang sering mendoakan kami, saya kehilangan satu pembawah rahmat, saya kehilangan satu orang tempat perolehan amal anak sholeh, saya kehilangan satu penyemangat hidup, saya kehilangan laki-laki yang mencintaiku, saya kehilangan satu hati yang hangat. Dan tinggallah satu orang tua tempat kami berkeluh kesah, tempat kami memperoleh amal, dialah ibu kami, istri bapak yang saat ini telah menjadi janda, semoga diberi umur panjang, kesehatan dan kesabaran.

Ya Allah…

Tempatkan Bapak kami disisiMU, Ampunilah segala dosa kedua orang tua kami dan berilah kami kesabaran dan kekuatan dalam menjalani setiap ujian dan cobaan. Aamiin. (RUS).

Keterangan :
Rus : Nama panggilan di rumah
Beta : Saya
*****
Tulisan ini hanya sebagai pelampiasan rindu seorang anak pada sosok Ayah yang telah tiada, Tak ada maksud untuk menyombongkan diri atau memperlihatkan kepedihan.
Salam
Ambon, 17 Februari 2016

 

Misteri Pantai Namanalu (Lubang Buaya)

Pantai Namanalu-Lubang Buaya Morella

Dokumentasi Pribadi : Pemandangan Sunset di Pantai Namanalu – Lubang Buaya Morella

Blog post ini diikutsertakan dalam Kontes Blog #IniMaluku yang diadakan oleh http://www.hekaleka.org/

Pantai Namanalu atau sering juga disebut Lubang Buaya terletak di Negeri Morella Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Negeri Morella merupakan salah satu negeri adat di Kecamatan Leihitu, dengan jumlah penduduk sebesar 3.150 jiwa, memiliki beberapa pantai yang sering dikunjungi oleh wisatawan, diantaranya adalah Pantai Letang, Pantai Tanjung Setang, Pantai Namanalu (Lubang Buaya), Pantai Tilepuai, dan Pantai Moki. Kelima pantai ini memiliki keindahan dan keunikan yang berbeda, selain itu juga punya sejarah dan cerita mistik yang sampai saat ini masih diyakini oleh warga setempat.

Namun pada tulisan ini, saya hanya akan mengulas sedikit tentang Pantai Namanalu, karena belakangan banyak yang lebih sering berkunjung kesitu, hanya untuk sekedar refresing, mengabadikan foto dipinggiran pantai, atau untuk menyelam. Sebelum pantai ini dikenal banyak orang khususnya warga kota Ambon biasanya hanya beberapa para penyelam saja yang sering datang ke pantai Namanalu.

Seiring dengan perkembangan media, foto-foto keindahan bawah laut Pantai Namanalu mulai menyebar di media social, beberapa komunitas pecinta wisata pun mulai mengabadikannya di youtube dan media social lainnya.

Namun tahukan anda, bahwa pantai Namanalu yang berbentuk huruf U itu, selain memiliki keindahan bawah laut, juga memiliki kisah yang belum diketahui oleh publik.

Sejarah “Nama Pantai Namanalu”

Konon ceritanya, sekitar tahun 1600-an yang lalu, datang seorang Lelaki dari Negeri Hutumury yang bernama “Nalu”, beliau datang seorang diri untuk membantu masyarakat yang ada di Benteng Kapahaha melawan para penjajah (VOC Belanda).

Nalu yang waktu itu datang dengan perahu dan mampir disalah satu dusung yang tidak jauh dari benteng Kapahaha. Dusung itu sampai saat ini, warga Morella menyebutnya NAMANALU, yang artinya, Nama; Labuan, dan Nalu; orang pertama yang datang di dusung. Hingga kini dusun Namanalu tersebut dijaga oleh anak cucu Marga Thenu yang ada di Morella.

Pada saat perang Kapahaha, Nalu yang juga disebut warga Morella sebagai Tete Nalu, konong memiliki kekuatan dalam ilmu perang, sehingga dia diangkat oleh para petinggi adat di benteng Kapahaha sebagai Wakil Kapitan Telukabessy.

Dalam lembaga adat Saliwangi Kapahaha, Nalu bersama dengan Telukabessy berada pada Lembaga Pertahanan dan Keamanan. Pada saat setiap melakukan peperangan dirinya selalu ada dibelakang Kapitan Telukabessy.

Nalu tinggal di benteng Kapahaha selama 10 tahun, dan tidak bisa lagi kembali ke Hutumury, karena masyarakat Hutumury yang mulanya beragama Islam telah berpindah keyakinan ke Agama Kristen. Dirinya memutuskan untuk menetap di Kapahaha dan menikah disana hingga melahirkan anak cucu marga Thenu sampai saat ini di Negeri Morella.

Begitulah awal mula penyebutan nama Pantai Namanalu, terkait dengan sebutan lainnya seperti Pantai Lubang Buaya, sebenarnya sampai saat ini,  tidak ada pembuktian bahwa adanya buaya di pantai Namanalu, namun berdasarkan cerita turung temurung, warga meyakini di pantai Namanalu memiliki penjaga gaib yang kadang berwujud ikan besar atau pun seekor buaya, Waallahualam, penjaga gaib itu hanya akan muncul bagi orang yang berniat jahat atau pun ingin merusak daerah sekitar.

Jadi tak perlu takut dengan sebutan Lubang Buaya atau pun ragu untuk datang kesana, karena  tidak ada buaya di pantai Namanalu, Namun untuk menjaga kelestraian pantai dan laut adalah tanggung jawab kita bersama.

Bagi anda yang belum pernah berkunjung ke pantai Namanalu-Lubang Buaya Morella dan ingin datang kesana, maka anda hanya akan butuh waktu paling lama dua jam perjalanan dari pusat kota Ambon, selanjutnya bisa anda nikmati sunset, keindahan bawah lautnya, bisa juga memancing ikan atau pun berkemah dipinggirang pantai Namanalu. (RL).

 

Pesona Tradisi Morella di Bulan Ramadhan

Hantaran Langansa di Negeri Morella

Hantaran Langansa di Negeri Morella

Kali ini saya masih bersemangat menulis tentang tradisi Ramadhan di Negeri Morella, seperti pada tulisan saya sebelumnya tentang Budaya Hadrat di Negeri Morella Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku yang merupakan perpaduan Budaya Arab, Eropa dan Melayu , nah kali ini saya ingin mengangkat lagi satu tradisi yang juga sering dilakukan pada bulan Ramadhan, yakni tradisi Malam Tujuh Lekur.

Seperti yang kita ketahui bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan mulia dan semua umat muslim di jagat raya ini memuliakannya dengan cara masing masing sesuai dengan adat dan tradisi yang sudah turung temurung.

Ada yang memanfaatkan waktunya untuk beribadah penuh di rumah dan Mesjid, ada yang suka bersedeqah dan lain sebagainya, tujuannya hanya untuk mendapat pahala semata.

Di Negeri Morella pun juga demikian, pendudukanya yang 100% muslim juga melaksanakan kewajiban-kewajiban itu. Dan juga melakukan tradisi adat yang sudah turung temurung, salah satu tradisi yang sering dilakukan tiap malam 27 Ramadhan adalah tradisi Malam Tujuh Lekur atau sering disebut Malam Langansa

Beragama Makanan dan Buah-buahan untuk Langansa di Negeri Morella

Beragama Makanan dan Buah-buahan untuk Langansa di Negeri Morella

Malam Tujuh Lekur atau malam Langansa adalah salah satu tradisi budaya Morella yang dilaksanakan untuk menyambut malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.

Sementara pengertian Langansa adalah Makanan atau buah-buahan ditaruh pada wadah, yang terbuat dari pelapah sagu (gaba-gaba), kemudian diantar ke Mesjid oleh para wanita . Malam Langansa di laksanakan pada malam 27 Ramadhan, dengan tujuan untuk menyambut Malam Lailatul Qadar.

Proses malam Langansa dimulai dari pengumpulan makanan dan buah-buahan oleh warga di setiap rumah Penghulu Mesjid, Tokoh-toko Adat dan Raja Negeri Morella (Kepala Desa), kemudian dihantarkan ke Masjid oleh para gadis dan juga Ibu-ibu usai ba’da Sholat Magrib. Setelah semuanya terkumpul di Mesjid, maka diadakan tarian dan nyanyian Hadrat oleh para pria sampai selesai, dalam syair Hadrat itu sendiri berisi zikir dan shalawat kepada Nabi, kemudian hantaran makanan dan buah-buahan tadi dibagi-bagikan lagi ke peserta hadrat dan anak-anak namun diprioritaskan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Usai proses langansa barulah dilanjutkan dengan Sholat Isya dan Tarawi.

Tarian dan nyanyian Hadrat

Tarian dan nyanyian Hadrat saat malam  Langansa di Negeri Morella

Seperti pada tulisan saya sebelumnya tentang Hadrat, bahwa Negeri Morella di setiap bulan Ramadhan, warga melaksanakan nyanyian Hadrat keliling kampung tujuannya untuk membangunkan sahur, dengan shalawat dan zikir yang dilantungkan benar-benar menghipnotis jiwa yang khusyu mengikutinya. Begitulah Rupa-rupa tradisi Ramadhan di Negeri Morella, hingga saat ini tradisi itu masih dijaga keasliannya, bahkan sampai lebaran pun masih banyak lagi tradisi-tradisi unik dan menarik lainnya, so tunggu ulasan saya berikutya. (RL)

Hadrat Saat Ramadhan : Perpaduan Arab, Melayu dan Eropa di Negeri Morella.

Budaya Hadrat di Negeri Morella

Budaya Hadrat di Negeri Morella

Morella merupakan salah satu negeri adat di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, dengan jumlah penduduk sebesar 3.150 jiwa, memiliki banyak tradisi adat dan budaya yang sering kali dilakukan di waktu tertentu, mulai saat awal Ramadhan, pertengahan, akhir hingga Lebaran tiba selalu ada tradisi yang wajib dilakukan oleh warga setempat, dan banyak kebiasaan-kebiasaan unik lainnya, sama halnya di daerah-daerah lain yang memiliki keunikan dan keragaman budaya masing-masing. Hal ini sangat memperkaya budaya adat istiadat di Indonesia.

Kali ini, saya ingin mengulas salah satu kebiasaan warga Morella saat bulan Ramadhan, yakni Ramadhan Hadrat atau sering disebut warga dengan hadrat di malam puasa, karena dilakukan di bulan Ramdhan pada saat menjelang Sahur.

Biasanya selesai sholat Tarawi para pemuda berpenampilan rapi dengan Jas (berwarna gelap), peci, sarung ditambah dengan selendangnya, berkumpul didepan Baeleu Tomasiwa**. Sambil menunggu Pemerintah Negeri dan Imam Masjid tiba di lokasi, para pemuda ini sudah siap di barisanya masing-masing, setiap barisan terdiri dari 5 sampai 7 orang, sambil melantungkan syair-syair berisi sholawat dan zikir, juga diiringan dengan bunyi rabana yang dimainkan oleh enam orang.

Hadrat Keliling

Hadrat Keliling

Jika di daerah perkotaan nuansa membangun sahur dengan cara yang lebih modern, nah di negeri Morella masih mempertahankan tradisi hadrat hingga saat ini. Meskipun tidak setiap hari masyarakat Morella melakukan Hadrat, namun dalam seminggu bisa dilakukan minimal dua kali setelah 10 Ramadhan pertama.

Saat syair yang berisi Sholawat dan zikir itu menggema di Negeri Morella jelang sahur, situasi malam Ramadhan semakin kental nuansa Islamnya. Peserta Hadrat yang melantungkan zikir itu keliling kampung dengan rapi, selendang juga diayungkan keatas dan kebawah, sementara warga juga ikut meramaikannya. iring-iringan hadrat yang dimulai dari depan Balai Desa ini juga diikuti oleh warga hingga finish di depan Masjid Raya Al-Muttaqim Morella, tentunya tradisi ini juga dikawal langsung oleh Pemerintah Negeri dan Imam Masjid,

Hadrat di Morella: Perpaduan Arab, Melayu dan Eropa

Tradisi hadrat di Negeri Morella juga merupakan perpaduan antara Arab, Melayu dan Eropa, hal ini dapat dilihat secara fisiknya saja para peserta menggunakan Jas yang mencirikan Eropa, peci dan sarung merupakan ciri khas orang melayu, sementara lantunang zikir dan sholawat yang bergema menggunakan bahasa Arab.

Sebenarnya Tradisi hadrat ini juga sering ditemui di daerah-daerah lainnya yang ada di Maluku, namun tidak semua daerah tersebut melakukannya di malam Ramadhan menjelang sahur. Hal ini hanya bisa ditemui di Negeri Morella, selain dilakukan menjelang sahur, masyarakat Morella juga melakukan Hadrat pada saat malam Lailatul Qadar, Lebaran Idul Fitri, Lebaran 7 Sawal, Lebaran Idul Adha dan juga terkadang pada acara pernikahan.(RL)

Keterangan :

Baeleu : Rumah adat Maluku, Tomasiwa: Nama Balai Desa Morella

Negeri Ema Yang Dilupakan Bangsa

Foto Dok: Maitimu Erween Leonardo

Foto Dok: Maitimu Erween Leonardo

Saat kaki menginjak tanah
Di Negeri yang katanya banyak cerita
Di kiri kanan terlihat hutan
Sungguh tentram mata memandang
Hati bahagia karena disambut dengan kasih
Baru sekali beta disitu
Entah mengapa rindu kembali

Negeri yang damai itu
Terletak di gunung
Tapi sayang jalannya rusak, berbukit, tidak terurus
Bila datang air dari langit
Ibu – ibu penjual hasil hutan
Tak bisa turung ke pasar
Anak-anak tak bisa belajar
Karena guru ragu mendaki

Itulah ungkapan hati yang bisa saya tulis saat tiba di Negeri Ema, sebuah Desa kecil yang berada pada Jazirah Leitimur Selatan Kota Ambon Provinsi Maluku. Pemandangan yang berbeda dari kampung halamanku sendiri, ini benar-benar membuat saya seperti berada pada dunia lain. Bayangin saja untuk mencapai Desa Ema kita harus mendaki dulu sekitar satu kilometer, dan sepanjang perjalanan saya merasakan panas dan lelah karena tak ada tempat peristirahatan, belum juga jalan yang rusak, batu-batuan kecil bisa mengancam pendaki jika tidak berhati-hati.

Namun rasa lelah dan panas itu hilang seketika setelah saya dan beberapa teman-teman lainnya tiba di puncak Ema, kami disambut ramah oleh masyarakat setempat, di suguhin minuman dan duren segar salah satu hasil hutang, setelah itu kami mulai berkeliling kampung. Alam pun tak mau kalah, menyambut kami dengan langit yang cerah, pemandangan hutan dan gunung seakan ingin memanjakan mata, rasa lelah saat pendakian itu hilang seperti sudah terbayar, dan yang paling berkesan pada saya karena di pusat perkampungan Ema masih ada pohon-pohon besar yang umurnya sudah beratus tahun, pemandangan alam seperti ini tidak saya temui di kota.

Minggu, 19 April 2015 lalu, saya dengan sepuluh teman lainnya berkumpul di rumah Paparisa sekitar pukul 14.00 WIT kami mulai melakukan perjalanan menuju Negeri Ema yang berjarak 8 km dari Kota Ambon, kedatangan kami bukan untuk peknik atau sekedar datang dan pergi, kami yang berasal dari latar belakang yang berbeda ini memiliki misi yang sama ingin membantu masyarakat Ema, karena selama ini Negeri Ema kurang mendapat perhatian dari pemerintah, padahal di Negeri Ema lahirlah salah satu Pahlawan Nasional dr. Johannes Leimena, salah satu tokoh bangsa yang memiliki gagasan Puskesmas dan digunakan di seluruh Indonesia sampai saat ini.

Negeri Ema yang memiliki ± 800 jiwa penduduk ini, secara umum masyarakatnya 80% adalah petani. Letak geografis Negeri Ema adalah berada ± 400 meter diatas permukaan laut, sebelah timur berbatasan dengan negeri Leahari, sebelah barat berbatasan dengan Kilang dan Naku, sebelah utara dengan negeri Hukurila, sebelah selatan dengan negeri Soya (Sumber : Elion Tupan, Badan Saniri Negeri Ema)

Negeri Bersejarah

Ini untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Negeri Ema, namun beberapa informasi yang pernah saya dengar tentang sejarah dan budayanya seakan membuat penasaran, tak mau membuang waktu saya pun mencoba untuk mencari tahu, beruntunglah ada teman yang merupakan warga Ema dengan senang hati memperlihatkan salah satu peninggalan benda bersejarah yakni Tombak Majapahit.

Konon katanya,  pada abad ke-14 putri Raja dan rombongan dari Kerajaan Majapahit diutus oleh Paduka Raja untuk bersekutu dengan para kapitan di bagian Timur wilayah Nusantara. Ada beberapa Kapitan di wilayah Timur (Maluku) saat itu, antara lain kapitan Tanahatu Meseng atau kapitan Kerajaan Hitu. Salah satu kapitan perkasa di Leitimor adalah kapitan negeri Ema Tanihatuila.

Putri Paduka Raja Majapahit secara khusus diutus untuk bersekutu dengan kapitan Tanihatuila dari negeri Ema. Dalam pelayarannya sang putri membawa sebuah peta, gendi emas sebagai tempat air minum, tombak dan seperangkat gending/gamelan (=toto buang). Pada pinggangnya terselip sebuah keris pusaka untuk menghadapi kesaktian kapitan negeri Ema (Sumber : ihuresy). Hingga saat ini peninggalan itu masih dijaga dengan baik.

11169250_1071614149518655_3387502901047864892_n

Tombak Majapahit Foto Dok: Maitimu Erween Leonardo

Menurut sejarah, Negeri Ema berasal dari Teluti Seram Utara, mayoritas masyarakat beragama Kristen Protestan, dan memiliki enam Soa yakni Soa Soalisa, Soa Sapariti, Soa Pelelatu, Soa Peilani, Soa Sama Sima, Soa Haulaki, Negeri Ema memiliki pranata adat yangg masih di pelihara baik, (Sumber : Elion Tupan, Badan Saniri Neger Ema). Menurut Elion Tupan  bahwa Negeri  Ema memiliki situs budaya yang sampai sekarang masih di jaga dan yang paling menonjol adalah Air Majapahit, namun sayang sekali pada petualangan saya di hari pertama tidak bisa berkunjung ke Air tersebut, selain Air Majapahit menurut warga setempat bahwa di Negeri Ema juga terdapat Air Islam yang sudah tidak mengalir lagi namun jika dikunjungi oleh warga Muslim air itu akan mengalir sendiri Waallahualam, informasi ini sangat membuat saya dan beberapa kawan-kawan penasaran, namun karena waktu kita sangat terbatas, jadi ditunda lagi untuk hari berikutnya. Negeri Ema  dengan segala peninggalan sejarahnya masih di rawat dengan baik.

Keluhan dan Kesedihan Masyarakat Ema

Setelah melihat beberapa peninggalan sejarah tersebut, tak lama kami di panggil oleh Pemerintah Desa untuk berkumpul di Aula Balai Pemerintahan yang sering disebut juga Rumah Negeri Ema oleh masyarakat setempat , kami bertemu dengan sekertaris Desa, Saniri (Badan Permusyawaratan Desa), dan beberapa perwakilan pemuda setelah memperkenalkan diri dengan maksud kedatangan, kami juga mendengar keluhan dan persoalaan yang dihadapi oleh Masyarakat, hal ini disampaikan oleh Sekertaris Negeri  Ema, M. Sariwating, bahwa Negeri Ema selama ini kurang diperhatikan oleh Pemerintah, mulai dari akses jalan yang sampai saat ini tidak selesai, tidak ada petugas Puskesmas, bahkan guru yang berkewajiban untuk mendidik siswa-siswa di Ema pun jarang hadir, hal ini karena jalan raya menuju Negeri Ema belum di aspal, dan kondisinya sangat memprihatinkan, apalagi jika turung hujan hampir semua aktivitas warga Ema yang ingin ke Kota harus berhenti.

Begitu amat dalam kesedihan yang saya rasakan saat suara yang tegas itu mulai terbata-bata, mata yang sudah berkaca, suasana forum begitu hening, dan satu persatu mulai mengeluhkan masalah mereka. Gustav Tanihatu yang merupakan Ketua Persatuan Pemuda Pelajar Ihuresi Ambon sangat berharap agar pemerintah bisa segera menyelesaikan proyek jalan raya, agar aktivitas warga tidak terganggu. Berbeda dengan Elion Tupan yang merasa seperti belum merdeka, dengan suara yang nyaring, tegas menyuarakan isi hatinya, namun matanya menggambarkan kesedihan warga Ema .

” Rasanya ingin melipat Bendera Merah Putih untuk dikembalikan pada Negara, karena kami seperti belum merasakan kemerdekaan, jalan menuju ke Ema seperti jalan politik, kami tidak mengerti dengan pikiran Pemerintah Kota”.

Begitulah ungkapan Elion Tupan yang membuat saya merinding, terlalu miris, Negeri Ema yang melahirkan Pahlawan Bangsa kondisinya seperti ini. Dimana pemerintah yang sebenarnya? Masyarakat Ema juga bagian dari NKRI tapi nyatanya sampai saat ini seperti dilupakan.

Negeri Ema Yang Dilupakan Negaranya Sendiri

Jalan rusak, tidak ada petugas Puskesmas, Guru jarang datang ke sekolah. Jadi wajar saja kalau sering terjadi kecelakaan, dan masih ada siswa yang tidak lulus sekolah. Kondisi ini sudah lama dirasakan oleh masyarakat Negeri Ema, namun mereka terlalu sabar untuk menanti janji pemerintah. Bahkan proyek jalan yang sudah direncanakan sejak tahun 1997 dengan anggaran 1,4 M sampai saat ini tidak selesai juga.

Padahal sudah 69 tahun Indonesia merdeka, Namun Negeri Ema masih jalan ditempat dan seperti dilupakan, para elit politik hanya datang dengan janji untuk memperoleh suara, setelah itu masyarakat Ema di abaikan, beberapa kali mereka menegosiasi dengan Pemerintah Kota Ambon, namun sampai saat ini belum juga diindahkan.

Pada saat kami berdialog dengan Pemerintah Desa dan perwakilan warga Ema (Minggu,19/04) lalu, mereka berkali-kali mengeluhkan ketidak jelasan proyek jalan tersebut, bahkan jika melihat letak geografis Negeri Ema dengan anggaran 1,4 M tidak akan cukup untuk menjawab kebutuhan. Selain dengan posisinya yang berada pada ketinggian, jalan Ema juga banyak terdapat jurang serta kondisi tanah yang mudah longsor.

Semoga Pemerintah yang terhormat dapat tergerak hatinya untuk menyelesaikan persoalaan-persoalan di Negeri Ema, dan saya bersama teman-teman yang menamakan diri Gerakan Untuk Ema akan tetap memperjuangkan hak masyarakat Ema. Sebelum saya menutup tulisan ini, saya ingin berbagi sedikit kutipan dari salah seorang Badan Saniri Negeri Ema M. Tanihatu yang cukup manis di dengar;

“kami hanya sebutir pasir kecil, dan saudara-saudara datang sebagai sebutir pasir kecil juga ingin merasakan kesedihan kami, semoga menjadi sekumpulan pasir yang banyak”

Demikian  tulisan saya kali ini, kisah di Kampung halaman seorang Tokoh Bangsa Jo Leimena yang tidak diperhatikan oleh Pemerintah.

Foto bersama Tim EMA BERGERAK

Foto bersama Tim EMA BERGERAK

MENGHADIRKAN KARAENG DI KAPAHAHA

MENGHADIRKAN KARAENG DI KAPAHAHA

Agustus lalu, di saat negeri ini memperingati kemerdekaan, saya bersilaturrahmi ke rumah Pemangku Adat Kerajaan Gowa, Andi Kumala Andi Idjo Karaeng Serang. Rumahnya terbilang sederhana untuk ukuran seorang pemangku adat. Orang tua Andi Kumala adalah Raja terakhir Kerajaan Gowa, Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin yang meninggal tahun 1978 di Jongaya Makassar.

Dalam silaturrahmi tersebut, kami membahas dua topik tentang hubungan  Gowa dengan Maluku. Pertama ketika perang Wawane dan Perang Kapahaha, dan Kedua, ketika penyelesaian konflik Maluku, Gowa menjadi tuan rumah penyelesaian dengan perjanjian Malino-nya.

Kami banyak membincang kehadiran pasukan Kerajaan Gowa di Maluku, pada masa perang melawan Belanda di Abad 17.  Kemudian juga menyinggung acara Pukul Manyapu yang berawal dari atraksi sebelum perpisahan dengan para pejuang Kapahaha. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 27 Oktober 1646 di pantai Sawatelu Negeri Hausihu  –  nama negeri lama Morella.

Kehadiran saya di Sungguminasa Gowa, dalam rangka mengundang Pemangku Adat Kerajaan Gowa dan anak cucu tiga orang Karaeng (Karaeng Jipang, Karaeng Tulis dan Daeng Mangapa) untuk hadir pada perayaan Pukul Manyapu.  Di samping itu juga membuka silaturrahmi dengan Kerajaan Gowa. Karena selama dua tahun terakhir, kegiatan Pukul Manyapu Morella selalu dihadiri oleh Pengurus  Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) sebagai representasi dari anak cucu tiga orang Karaeng yang berperang di Kapahaha.

Undangan ini disahuti. Sang Pemangku Adat sangat bersuka cita untuk hadir pada perayaan Pukul Manyapu 7 Syawal.

SEKILAS JEJAK KARAENG

Di tengah perbincangan, ketika saya menyebut beberapa nama pimpinan pasukan Kerajaan Gowa  – antara lain; Karaeng Jipang, Daeng Mangapa, dan Karaeng Bontonompo, – Sang Karaeng (Andi Kumala), berdiri mengambil sebuah buku Inseklopedia Kerajaan Gowa dan memperlihatkan catatan tentang keterlibatan “Pasukan Karaeng” di berbagai daerah nusantara bahkan ke luar nusantara.

“Nama yang disebut tadi, seperti Karaeng Jipang, Karaeng Bontonompo, Daeng Mangapa, kalau masa  sekarang,  mereka minimal setingkat Brigjen”. Kata Sang Karaeng.

Wah,…. mencengangkan. Betapa besar kekuatan yang dikirim oleh Kerajaan Gowa ke Benteng Wawane yang saat itu panglima perangnya adalah Kapitan Kakiali. Pasukan yang dikirim berjumlah sekitar 400 orang. Mereka adalah pasukan terbesar dari luar Jazirah Leihitu, ditambah dengan pimpinan sekaliber Karaeng Jipang dll.  Hal ini sekaligus menunjukkan kontribusi dan perhatian besar Kerajaan Gowa terhadap Maluku.

Proses kedatangan diawali oleh permintaan Kapitan Kakiali pada Raja Gowa, I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga ri Papang Batuna (berkuasa tahun 1639 hingga 1653) untuk membantu perang melawan Belanda. Kemudian disusul dengan pengiriman cengkeh dalam jumlah relatif besar sebagai biaya bagi pasukan Karaeng.

Dukungan Karaeng sangat berarti pada Perang Wawane (Hitu I) dan menjadi sandungan bagi Belanda. Sehingga Belanda menggunakan politik de vide et impera dan membayar seorang berkebangsaan Spanyol untuk membunuh Kapitan Kakiali di saat tidur.

Setelah Kapitan Kakiali terbunuh dan Wawane jatuh, pasukan Karaeng berpencar di hutan-hutan Leihitu.  Mereka kemudian bersama Kapitan Tomol, Kapitan Patiwane, Imam Rijali, dan sejumlah pasukan lain bergabung ke Kapahaha. Kapahaha adalah benteng terakhir. Bukit batu terjal sesuai namanya, Kapa = tajam, haha = di atas.  Terletak sekitar 3,5 Km sebelah Utara Negeri Morella. Saat itu Panglima Perang Kapahaha adalah Kapitan Telukabessy.

Menurut Imam Rijali, setelah rombongan tiba di Kapahaha, pembagian pos-pos pertahanan diatur. Pasukan Karaeng bergabung dengan Kapitan Patiwani dan Kapitan Tomol menjaga pos Iyal Uli. Pos pertahanan ini dekat Benteng Kapahaha.

Sebelum Kapahaha jatuh, Karaeng Jipang dan Bontonompo bersama sebagian pasukannya kembali ke Gowa pada musim timur.

Perang Kapahaha berakhir ketika Belanda berhasil mengetahui satu-satunya jalur menuju Benteng Kapahaha. Pada malam harinya, mereka melakukan serangan mendadak.  Pasukan Kapahaha kucar kacir. Kapahaha dibumihanguskan. Para pejuang banyak gugur. Sebagian yang selamat ditawan dan sebagian lainnya berhasil lolos, termasuk Kapitan Telukabessy, dan Imam Rijali.

Setelah perang berakhir,  jejak pasukan Karaeng hingga kini kurang terungkap.  Informasi yang ada hanya seputar cerita sebuah batu di muara sungai Moki – sekitar 8 Km dari Morella ke arah Liang – yang biasa disebut “Batu Tete Bugis”. Selain itu, hanya menjelang acara Pukul Manyapu 7 Syawal, dilakukan pendekatan ke KKSS untuk mengahdiri acara mewakili 3 Karaeng.

BERSAMA MENGUSIK SEJARAH

Perbincangan dengan Pemangku Adat Kerajaan Gowa di atas,  membangun mimpi indah saya.

Karena di Kabupaten Gowa sendiri ada rencana melakukan temu turunan Karaeng sedunia. Idenya agak wah,… Tapi bila ditilik pada langkah-langkah persiapan termasuk pagelaran Festival Kraton di Gowa pada bulan November nanti, maka  rencana ini sangat mungkin terlaksana. Agenda ini perlu disahuti sebagai upaya menapaktilas perjalanan sejarah, termasuk sejarah keterlibatan Pasukan Karaeng di Perang Wawane dan Kapahaha.

Lalu, dalam konteks  kekinian, apa yang dapat diambil oleh masyarakat Maluku terutama bagi wilayah-wilayah yang pernah berperang bersama melawan penjajah.

Jelas, bahwa jejak kebesaran Kerajaan Gowa dan pengaruh tokoh asal Sulsel secara umum di pentas nasional sekarang jadi pertimbangan. Tampilnya Jusuf Kalla sebagai Wapres, Riyaas Rasyid, Andi Alfian dan Rizal Mallarangeng, Syahrul Yasin Limpo – Gubernur Sulsel keturunan Karaeng Bontonompo – serta  sederet nama  orang Sulsel memberikan kontribusi signifikan yang membawa harum nama Indonesia Bagian Timur, menjadi peluang yang perlu disikapi sebaik mungkin.

Minimal, perhatian yang diawali dengan keterpanggilan membangun sejarah bersama, dapat digunakan untuk mengangkat sejarah kebesaran para kapitan yang tertinggal jauh dibanding dengan Pahlawan Maluku; Kapitan Pattimura dan Martha Christina Tiahahu.

Lalu, bagi masyarakat Maluku, rencana kehadiran Pemangku Adat Kerajaan Gowa di pentas Pukul Manyapu merupakan kehormatan besar. Perayaan budaya ini penting untuk dikemas cantik dan menarik dengan tetap berdasar akurasi sejarah perjuangan. Karena dengan event adat berlatar belakang sejarah yang dikemas “cantik”, perasaan memiliki sejarah akan menjadi pendorong membangun event yang lebih “menasional” di kemudian hari.

Wawane dan Kapahaha (Perang Hitu I dan II) adalah perang berskala besar yang melibatkan Kerajaan Gowa, Ternate, Kerajaan Mataram (Jogja) dan hampir seluruh perwakilan dari wilayah Maluku. Masa perangnya juga lebih dari 13 tahun (Wawane tahun 1633 – 1643 dan Kapahaha tahun 1637 -1646).

Di sisi lain, kemampuan mengorganisir event besar masih menjadi kendala internal di Morella. Kelemahan internal ini penting dijadikan warning dalam  mengemas event secara baik, persiapan lebih matang,  apalagi dengan rencana kehadiran Sang Karaeng.

Sedang bagi KKSS dan masyarakat Maluku asal Sulsel saatnya untuk lebih proaktif melakukan pendekatan guna mengambil peran dan bahu membahu membuka simpul-simpul kerjasama yang lebih baik dengan negeri-negeri yang memiliki sejarah bersama.

Karena dengan menghadirkan Karaeng, kita sebenarnya sedang menata ulang pondasi sejarah bangsa yang kokoh.

Allahu a’lam.

Sumber :

Fuad Mahfud Azuz

Ketua YPI Al-Wathan Ambon

Sekretaris Kerukunan Masyarakat Morella (KMM) Ambon.

Tulisan ini pernah dimuat di Ameks tanggal 22 september 2008.