DI BAWAH LANGIT YANG SAMA

Oleh: R. Leikawa

Pada langit yang sama kita menatap keatas
Pada tanah yang sama kita berdiri diatasnya

Namun hujan tak merata jatuh sesuka hati
Tak semua jiwa merasakan pelukan air langit

Malam itu tubuh kita basah dihujani
Namun tak semua rumput basah

Meski dibawah langit yang sama
Hujan berhak memilih tempat untuk disirami

Bahkan diseparuh perjalanan kita harus berhenti
Sedang aku sangat menikmati semilir angin malam itu

Menatap keanehan diatas sana, Tak perduli tubuhku yang basah
Dan kau yang membawaku, memilih jalan untuk pulang

Ambon, 26 Juli 2015

Pesona Tradisi Morella di Bulan Ramadhan

Hantaran Langansa di Negeri Morella

Hantaran Langansa di Negeri Morella

Kali ini saya masih bersemangat menulis tentang tradisi Ramadhan di Negeri Morella, seperti pada tulisan saya sebelumnya tentang Budaya Hadrat di Negeri Morella Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku yang merupakan perpaduan Budaya Arab, Eropa dan Melayu , nah kali ini saya ingin mengangkat lagi satu tradisi yang juga sering dilakukan pada bulan Ramadhan, yakni tradisi Malam Tujuh Lekur.

Seperti yang kita ketahui bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan mulia dan semua umat muslim di jagat raya ini memuliakannya dengan cara masing masing sesuai dengan adat dan tradisi yang sudah turung temurung.

Ada yang memanfaatkan waktunya untuk beribadah penuh di rumah dan Mesjid, ada yang suka bersedeqah dan lain sebagainya, tujuannya hanya untuk mendapat pahala semata.

Di Negeri Morella pun juga demikian, pendudukanya yang 100% muslim juga melaksanakan kewajiban-kewajiban itu. Dan juga melakukan tradisi adat yang sudah turung temurung, salah satu tradisi yang sering dilakukan tiap malam 27 Ramadhan adalah tradisi Malam Tujuh Lekur atau sering disebut Malam Langansa

Beragama Makanan dan Buah-buahan untuk Langansa di Negeri Morella

Beragama Makanan dan Buah-buahan untuk Langansa di Negeri Morella

Malam Tujuh Lekur atau malam Langansa adalah salah satu tradisi budaya Morella yang dilaksanakan untuk menyambut malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.

Sementara pengertian Langansa adalah Makanan atau buah-buahan ditaruh pada wadah, yang terbuat dari pelapah sagu (gaba-gaba), kemudian diantar ke Mesjid oleh para wanita . Malam Langansa di laksanakan pada malam 27 Ramadhan, dengan tujuan untuk menyambut Malam Lailatul Qadar.

Proses malam Langansa dimulai dari pengumpulan makanan dan buah-buahan oleh warga di setiap rumah Penghulu Mesjid, Tokoh-toko Adat dan Raja Negeri Morella (Kepala Desa), kemudian dihantarkan ke Masjid oleh para gadis dan juga Ibu-ibu usai ba’da Sholat Magrib. Setelah semuanya terkumpul di Mesjid, maka diadakan tarian dan nyanyian Hadrat oleh para pria sampai selesai, dalam syair Hadrat itu sendiri berisi zikir dan shalawat kepada Nabi, kemudian hantaran makanan dan buah-buahan tadi dibagi-bagikan lagi ke peserta hadrat dan anak-anak namun diprioritaskan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Usai proses langansa barulah dilanjutkan dengan Sholat Isya dan Tarawi.

Tarian dan nyanyian Hadrat

Tarian dan nyanyian Hadrat saat malam  Langansa di Negeri Morella

Seperti pada tulisan saya sebelumnya tentang Hadrat, bahwa Negeri Morella di setiap bulan Ramadhan, warga melaksanakan nyanyian Hadrat keliling kampung tujuannya untuk membangunkan sahur, dengan shalawat dan zikir yang dilantungkan benar-benar menghipnotis jiwa yang khusyu mengikutinya. Begitulah Rupa-rupa tradisi Ramadhan di Negeri Morella, hingga saat ini tradisi itu masih dijaga keasliannya, bahkan sampai lebaran pun masih banyak lagi tradisi-tradisi unik dan menarik lainnya, so tunggu ulasan saya berikutya. (RL)

Mata Gobang di Halmahera

Tuan.. ku beri nama kau mata gobang
Karena matamu yang panas, merah seperti iblis
Kau yang tak berhati
Pendukungmu juga mata gobang

Gobang

                              Gobang – Gobang

Kalian ingin merubah sejarah
Sampai lupa identitas Negeri ini
Demi gobang yang melimpah
Togutil jadi incaranmu

Nafsu dan keserakahan
Ingin merebut, menguasai tanah saudara kami
Kau pikir tanah itu tidak ber-Tuhan..?
Atau penghuninya tak bernyawa..?

Oh… Mata Gobang berjiwa pencuri
Bokum dan Nuhu adalah saudara kami
Kau tuduh pembunuh dan tangkap tanpa bukti
Supaya bebas mengambil hak penjaga rimba Halmahera

Wahai pemilik niat busuk perongrong bangsa
Togutil adalah kekayaan yang terbatas
Jangan kau rampas begitu saja
Karena kami akan berteriak

Kembalikan lahan saudara kami
Angkat kaki dari bumi Halmahera
Bebaskan Bokum dan Nuhu
Atau kami akan mengutukmu..!!

R. Leikawa
Ambon-Waeheru, 20 Maret 2015

Ket:
Mata Gobang: Mata uang, materialis, orang yang terlalu mementingkan uang, harta dsb

Aku Pun Mulai Malu

Malu pada tanah yang selalu diinjak
Namun tak pernah mengeluh kesakitan
Sedang aku selalu merasa kekurangan dan hina
Padahal aku sudah diberi tempat yang layak

Malu pada awan putih
Bersih tanpa noda
Sedang aku selalu mengotori hati ini
Padahal Tuhan telah berfirman untuk menjaga hati

Malu pada laut yang kaya isinya
Luas terbentang dimuka bumi
Sedang aku selalu menyombongkan diri
Padahal ilmu ku tak sebanding air laut beserta isinya

Malu pada bintang dan matahari
Yang selalu bersinar terang
Sedang aku merasa paling hebat
Padahal aku belum menyinari rumah piatu yang gelap

Dan Aku pun mulai malu
Pada gunung, hutang, dan air
Pada pelangi, senja, dan fajar
Pada tetesan embun, dan debu

Bahwa semuanya memiliki kharisma
Namun mereka hanya diam dalam pesona yang menakjubkan
Sedang aku masih sibuk mengurus diriku
Yang tak pernah puas dan lupa

Padahal Tuhan sudah memberi tanda
Pada setiap bentuk yang ada dibumi
Lantas nikmat apa lagi
Yang harus aku pertanyakan?

Sungguh, Aku pun mulai malu…!!

R. Leikawa
Ambon, 1 Juli 2015

Hadrat Saat Ramadhan : Perpaduan Arab, Melayu dan Eropa di Negeri Morella.

Budaya Hadrat di Negeri Morella

Budaya Hadrat di Negeri Morella

Morella merupakan salah satu negeri adat di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, dengan jumlah penduduk sebesar 3.150 jiwa, memiliki banyak tradisi adat dan budaya yang sering kali dilakukan di waktu tertentu, mulai saat awal Ramadhan, pertengahan, akhir hingga Lebaran tiba selalu ada tradisi yang wajib dilakukan oleh warga setempat, dan banyak kebiasaan-kebiasaan unik lainnya, sama halnya di daerah-daerah lain yang memiliki keunikan dan keragaman budaya masing-masing. Hal ini sangat memperkaya budaya adat istiadat di Indonesia.

Kali ini, saya ingin mengulas salah satu kebiasaan warga Morella saat bulan Ramadhan, yakni Ramadhan Hadrat atau sering disebut warga dengan hadrat di malam puasa, karena dilakukan di bulan Ramdhan pada saat menjelang Sahur.

Biasanya selesai sholat Tarawi para pemuda berpenampilan rapi dengan Jas (berwarna gelap), peci, sarung ditambah dengan selendangnya, berkumpul didepan Baeleu Tomasiwa**. Sambil menunggu Pemerintah Negeri dan Imam Masjid tiba di lokasi, para pemuda ini sudah siap di barisanya masing-masing, setiap barisan terdiri dari 5 sampai 7 orang, sambil melantungkan syair-syair berisi sholawat dan zikir, juga diiringan dengan bunyi rabana yang dimainkan oleh enam orang.

Hadrat Keliling

Hadrat Keliling

Jika di daerah perkotaan nuansa membangun sahur dengan cara yang lebih modern, nah di negeri Morella masih mempertahankan tradisi hadrat hingga saat ini. Meskipun tidak setiap hari masyarakat Morella melakukan Hadrat, namun dalam seminggu bisa dilakukan minimal dua kali setelah 10 Ramadhan pertama.

Saat syair yang berisi Sholawat dan zikir itu menggema di Negeri Morella jelang sahur, situasi malam Ramadhan semakin kental nuansa Islamnya. Peserta Hadrat yang melantungkan zikir itu keliling kampung dengan rapi, selendang juga diayungkan keatas dan kebawah, sementara warga juga ikut meramaikannya. iring-iringan hadrat yang dimulai dari depan Balai Desa ini juga diikuti oleh warga hingga finish di depan Masjid Raya Al-Muttaqim Morella, tentunya tradisi ini juga dikawal langsung oleh Pemerintah Negeri dan Imam Masjid,

Hadrat di Morella: Perpaduan Arab, Melayu dan Eropa

Tradisi hadrat di Negeri Morella juga merupakan perpaduan antara Arab, Melayu dan Eropa, hal ini dapat dilihat secara fisiknya saja para peserta menggunakan Jas yang mencirikan Eropa, peci dan sarung merupakan ciri khas orang melayu, sementara lantunang zikir dan sholawat yang bergema menggunakan bahasa Arab.

Sebenarnya Tradisi hadrat ini juga sering ditemui di daerah-daerah lainnya yang ada di Maluku, namun tidak semua daerah tersebut melakukannya di malam Ramadhan menjelang sahur. Hal ini hanya bisa ditemui di Negeri Morella, selain dilakukan menjelang sahur, masyarakat Morella juga melakukan Hadrat pada saat malam Lailatul Qadar, Lebaran Idul Fitri, Lebaran 7 Sawal, Lebaran Idul Adha dan juga terkadang pada acara pernikahan.(RL)

Keterangan :

Baeleu : Rumah adat Maluku, Tomasiwa: Nama Balai Desa Morella

Negeri Ema Yang Dilupakan Bangsa

Foto Dok: Maitimu Erween Leonardo

Foto Dok: Maitimu Erween Leonardo

Saat kaki menginjak tanah
Di Negeri yang katanya banyak cerita
Di kiri kanan terlihat hutan
Sungguh tentram mata memandang
Hati bahagia karena disambut dengan kasih
Baru sekali beta disitu
Entah mengapa rindu kembali

Negeri yang damai itu
Terletak di gunung
Tapi sayang jalannya rusak, berbukit, tidak terurus
Bila datang air dari langit
Ibu – ibu penjual hasil hutan
Tak bisa turung ke pasar
Anak-anak tak bisa belajar
Karena guru ragu mendaki

Itulah ungkapan hati yang bisa saya tulis saat tiba di Negeri Ema, sebuah Desa kecil yang berada pada Jazirah Leitimur Selatan Kota Ambon Provinsi Maluku. Pemandangan yang berbeda dari kampung halamanku sendiri, ini benar-benar membuat saya seperti berada pada dunia lain. Bayangin saja untuk mencapai Desa Ema kita harus mendaki dulu sekitar satu kilometer, dan sepanjang perjalanan saya merasakan panas dan lelah karena tak ada tempat peristirahatan, belum juga jalan yang rusak, batu-batuan kecil bisa mengancam pendaki jika tidak berhati-hati.

Namun rasa lelah dan panas itu hilang seketika setelah saya dan beberapa teman-teman lainnya tiba di puncak Ema, kami disambut ramah oleh masyarakat setempat, di suguhin minuman dan duren segar salah satu hasil hutang, setelah itu kami mulai berkeliling kampung. Alam pun tak mau kalah, menyambut kami dengan langit yang cerah, pemandangan hutan dan gunung seakan ingin memanjakan mata, rasa lelah saat pendakian itu hilang seperti sudah terbayar, dan yang paling berkesan pada saya karena di pusat perkampungan Ema masih ada pohon-pohon besar yang umurnya sudah beratus tahun, pemandangan alam seperti ini tidak saya temui di kota.

Minggu, 19 April 2015 lalu, saya dengan sepuluh teman lainnya berkumpul di rumah Paparisa sekitar pukul 14.00 WIT kami mulai melakukan perjalanan menuju Negeri Ema yang berjarak 8 km dari Kota Ambon, kedatangan kami bukan untuk peknik atau sekedar datang dan pergi, kami yang berasal dari latar belakang yang berbeda ini memiliki misi yang sama ingin membantu masyarakat Ema, karena selama ini Negeri Ema kurang mendapat perhatian dari pemerintah, padahal di Negeri Ema lahirlah salah satu Pahlawan Nasional dr. Johannes Leimena, salah satu tokoh bangsa yang memiliki gagasan Puskesmas dan digunakan di seluruh Indonesia sampai saat ini.

Negeri Ema yang memiliki ± 800 jiwa penduduk ini, secara umum masyarakatnya 80% adalah petani. Letak geografis Negeri Ema adalah berada ± 400 meter diatas permukaan laut, sebelah timur berbatasan dengan negeri Leahari, sebelah barat berbatasan dengan Kilang dan Naku, sebelah utara dengan negeri Hukurila, sebelah selatan dengan negeri Soya (Sumber : Elion Tupan, Badan Saniri Negeri Ema)

Negeri Bersejarah

Ini untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Negeri Ema, namun beberapa informasi yang pernah saya dengar tentang sejarah dan budayanya seakan membuat penasaran, tak mau membuang waktu saya pun mencoba untuk mencari tahu, beruntunglah ada teman yang merupakan warga Ema dengan senang hati memperlihatkan salah satu peninggalan benda bersejarah yakni Tombak Majapahit.

Konon katanya,  pada abad ke-14 putri Raja dan rombongan dari Kerajaan Majapahit diutus oleh Paduka Raja untuk bersekutu dengan para kapitan di bagian Timur wilayah Nusantara. Ada beberapa Kapitan di wilayah Timur (Maluku) saat itu, antara lain kapitan Tanahatu Meseng atau kapitan Kerajaan Hitu. Salah satu kapitan perkasa di Leitimor adalah kapitan negeri Ema Tanihatuila.

Putri Paduka Raja Majapahit secara khusus diutus untuk bersekutu dengan kapitan Tanihatuila dari negeri Ema. Dalam pelayarannya sang putri membawa sebuah peta, gendi emas sebagai tempat air minum, tombak dan seperangkat gending/gamelan (=toto buang). Pada pinggangnya terselip sebuah keris pusaka untuk menghadapi kesaktian kapitan negeri Ema (Sumber : ihuresy). Hingga saat ini peninggalan itu masih dijaga dengan baik.

11169250_1071614149518655_3387502901047864892_n

Tombak Majapahit Foto Dok: Maitimu Erween Leonardo

Menurut sejarah, Negeri Ema berasal dari Teluti Seram Utara, mayoritas masyarakat beragama Kristen Protestan, dan memiliki enam Soa yakni Soa Soalisa, Soa Sapariti, Soa Pelelatu, Soa Peilani, Soa Sama Sima, Soa Haulaki, Negeri Ema memiliki pranata adat yangg masih di pelihara baik, (Sumber : Elion Tupan, Badan Saniri Neger Ema). Menurut Elion Tupan  bahwa Negeri  Ema memiliki situs budaya yang sampai sekarang masih di jaga dan yang paling menonjol adalah Air Majapahit, namun sayang sekali pada petualangan saya di hari pertama tidak bisa berkunjung ke Air tersebut, selain Air Majapahit menurut warga setempat bahwa di Negeri Ema juga terdapat Air Islam yang sudah tidak mengalir lagi namun jika dikunjungi oleh warga Muslim air itu akan mengalir sendiri Waallahualam, informasi ini sangat membuat saya dan beberapa kawan-kawan penasaran, namun karena waktu kita sangat terbatas, jadi ditunda lagi untuk hari berikutnya. Negeri Ema  dengan segala peninggalan sejarahnya masih di rawat dengan baik.

Keluhan dan Kesedihan Masyarakat Ema

Setelah melihat beberapa peninggalan sejarah tersebut, tak lama kami di panggil oleh Pemerintah Desa untuk berkumpul di Aula Balai Pemerintahan yang sering disebut juga Rumah Negeri Ema oleh masyarakat setempat , kami bertemu dengan sekertaris Desa, Saniri (Badan Permusyawaratan Desa), dan beberapa perwakilan pemuda setelah memperkenalkan diri dengan maksud kedatangan, kami juga mendengar keluhan dan persoalaan yang dihadapi oleh Masyarakat, hal ini disampaikan oleh Sekertaris Negeri  Ema, M. Sariwating, bahwa Negeri Ema selama ini kurang diperhatikan oleh Pemerintah, mulai dari akses jalan yang sampai saat ini tidak selesai, tidak ada petugas Puskesmas, bahkan guru yang berkewajiban untuk mendidik siswa-siswa di Ema pun jarang hadir, hal ini karena jalan raya menuju Negeri Ema belum di aspal, dan kondisinya sangat memprihatinkan, apalagi jika turung hujan hampir semua aktivitas warga Ema yang ingin ke Kota harus berhenti.

Begitu amat dalam kesedihan yang saya rasakan saat suara yang tegas itu mulai terbata-bata, mata yang sudah berkaca, suasana forum begitu hening, dan satu persatu mulai mengeluhkan masalah mereka. Gustav Tanihatu yang merupakan Ketua Persatuan Pemuda Pelajar Ihuresi Ambon sangat berharap agar pemerintah bisa segera menyelesaikan proyek jalan raya, agar aktivitas warga tidak terganggu. Berbeda dengan Elion Tupan yang merasa seperti belum merdeka, dengan suara yang nyaring, tegas menyuarakan isi hatinya, namun matanya menggambarkan kesedihan warga Ema .

” Rasanya ingin melipat Bendera Merah Putih untuk dikembalikan pada Negara, karena kami seperti belum merasakan kemerdekaan, jalan menuju ke Ema seperti jalan politik, kami tidak mengerti dengan pikiran Pemerintah Kota”.

Begitulah ungkapan Elion Tupan yang membuat saya merinding, terlalu miris, Negeri Ema yang melahirkan Pahlawan Bangsa kondisinya seperti ini. Dimana pemerintah yang sebenarnya? Masyarakat Ema juga bagian dari NKRI tapi nyatanya sampai saat ini seperti dilupakan.

Negeri Ema Yang Dilupakan Negaranya Sendiri

Jalan rusak, tidak ada petugas Puskesmas, Guru jarang datang ke sekolah. Jadi wajar saja kalau sering terjadi kecelakaan, dan masih ada siswa yang tidak lulus sekolah. Kondisi ini sudah lama dirasakan oleh masyarakat Negeri Ema, namun mereka terlalu sabar untuk menanti janji pemerintah. Bahkan proyek jalan yang sudah direncanakan sejak tahun 1997 dengan anggaran 1,4 M sampai saat ini tidak selesai juga.

Padahal sudah 69 tahun Indonesia merdeka, Namun Negeri Ema masih jalan ditempat dan seperti dilupakan, para elit politik hanya datang dengan janji untuk memperoleh suara, setelah itu masyarakat Ema di abaikan, beberapa kali mereka menegosiasi dengan Pemerintah Kota Ambon, namun sampai saat ini belum juga diindahkan.

Pada saat kami berdialog dengan Pemerintah Desa dan perwakilan warga Ema (Minggu,19/04) lalu, mereka berkali-kali mengeluhkan ketidak jelasan proyek jalan tersebut, bahkan jika melihat letak geografis Negeri Ema dengan anggaran 1,4 M tidak akan cukup untuk menjawab kebutuhan. Selain dengan posisinya yang berada pada ketinggian, jalan Ema juga banyak terdapat jurang serta kondisi tanah yang mudah longsor.

Semoga Pemerintah yang terhormat dapat tergerak hatinya untuk menyelesaikan persoalaan-persoalan di Negeri Ema, dan saya bersama teman-teman yang menamakan diri Gerakan Untuk Ema akan tetap memperjuangkan hak masyarakat Ema. Sebelum saya menutup tulisan ini, saya ingin berbagi sedikit kutipan dari salah seorang Badan Saniri Negeri Ema M. Tanihatu yang cukup manis di dengar;

“kami hanya sebutir pasir kecil, dan saudara-saudara datang sebagai sebutir pasir kecil juga ingin merasakan kesedihan kami, semoga menjadi sekumpulan pasir yang banyak”

Demikian  tulisan saya kali ini, kisah di Kampung halaman seorang Tokoh Bangsa Jo Leimena yang tidak diperhatikan oleh Pemerintah.

Foto bersama Tim EMA BERGERAK

Foto bersama Tim EMA BERGERAK

Kasih

Lama ku meninggalkanMu
MelupakanMu
Dan hanya mengurus diriku sendiri

Kasih
Saat fajar menyapa
Hingga senja melambai…
Aku hanya terus menyibukkan diriku dengan urusan duniakuKata Kata Doa Mutiara di Hari Jumat

Padahal saat dalam buaian bumi kecil ku
Kita telah berjanji
Untuk akan selalu bertemu lima kali dalam sehari

Sungguh
Aku telah menginkari janji ku padaMu
Aku melupakanMu saat ku diperhadapkan dengan mewahnya dunia
Namun tak sedikit pun Kau marah
Justru memberiku banyak cinta

Kasih…
Karena jiwa yang penuh gelisah
Raga yang lelah karena dunia
Aku merindukan pertemuan dengan Mu
Di waktu yang hanya untuk kita berdua
Saat malam yang sepi,
Dan bercerita tentang pembaringan terakhirku kelak

Ya Rahman Ar-Rahim
Jadikanlah setiap ujian yang datang
Sebagai butiran Tasbih Dzikirku kepadaMu

Jadikanlah setiap cobaan yang datang
Sebagai hamparan sajaddah sujudku

Kasih
Ijinkan aku menemuimMu
Dalam Tahajjud penuh Khusyuh…

R.Leikawa
Tantui 13 Februari 2015
12. 15 WIT