Cerita di Tanah HITU

Kalau Sebut Hitu
Beta ingat anak-anak berpakaian Putih dan Biru
Kalau cerita Hitu
Beta Ingat Remaja bersepeda
Kalau mengenang Hitu
Beta Ingat setapak Tua, Jalan Mata Empat
Dan Nasi Pulut
 
Disana.. ditanah Hitu
Ada cinta,
Persahabatan,
Dan banyak cerita
 
Kata mereka dalam kapata, ada Riwayat Tanah Hitu
Beta juga punya cerita ditanah yang makmur itu.
 
Saat Usia yang masih mudah …
Dari Negeri Hausihul
Remaja berpakain putih biru dengan sepedahnya
Melaju sampai ditengah perkampungan yang bersahaja
 
Melewati Jembatan, Jalan besar sampai Setapak Tua
Setelah mencicipi nasi pulut
Saban hari selalu begitu
Remaja itu begitu menikmati
 
Ini Kisah Remaja berpakain Putih dan Biru
Kalau Ingat Cerita itu
Cuma ada di Tanah Hitu
 
R. Leikawa
Waeheru, 29 November 2014
17.00 WIT
 
**
Beta          : Saya
Hausihul  : Morella/Negeri Tetangga Hitu
Iklan

Sejarah Tari Sapu Lidi Morella

Atraksi tari Sapu Lidi telah menjadi tradisi adat di Negeri Morella sejak Tahun 1646, tari ini mulanya adalah permainan anak-anak di saat Benteng Kapahaha masih jaya.

Namun setelah jatuhnya para pejuang-pejuang Kapahaha ditangan VOC pada tanggal 25-27 Juli 1646, para malesi-malesi dengan seluruh rakyatnya ditawang di markas VOC Belanda di Teluk Sawatelu. Kapitang Telukabessy tertangkap dan diantar ke Kota Latania Ambon(Benteng Victoria) dan dihukum gantung pada tanggal 3 September 1646 di depan Benteng Victoria.

Pada tanggal 27 Oktober 1646 Gubernur Gerard Demmer membebaskan pejuang-pejuang Kapahaha yang ditawang di Teluk Sawatelu. Pembebasan tawanan perang kapahaha diadakan dengan pesta perpisahan. Maka pada acara pesta perpisahan ini dipentaskan tari-tari adat yang bernafas sejarah dengan nyanyian lagu-lagu kapata sejarah dan turut pula dengan serombongan pemuda kapahaha mempertunjukan tari Sapu Lidi.

Pada saat itu para malesi-malesi yang bertarung dalam perjuangan perang Kapahaha dari pihak Pata Siwa, Pata Lima maupun suku Bugis Makassar sangat tertarik dengan tari tersebut dengan luka-luka berdarah selalu membangkitkan semangat para pejuang.

Setelah selesainya acara pesta perpisahan, maka dengan tekad bersama dengan tiga Malesi sebagai pimpinan dari tiga sawat atau rombongan masing-masing hendak kembali pulang kedaerahnya masing-masng yaitu; jurusan Huamual,Buru dan sekitarnya,Iha Ulupalu di Saparua, Hulawano di Nusalaut, satu sawat menuju Seram Kaibonu, Tihulele, Latu, Tamilou dan Manusela. Ada juga Malesi-Malesi dari luar Maluku yang disebut suku Mahu diantaranya Bugis Makassar dll.

Perpisahan sangat berkesan dengan pekikan-pekikan dan cucuran air mata serta sumpah setia dengan satu ikrar dan menetapkan atraksi Sapu Lidi menjadi tradisi adat dan membudaya disepanjang masa, diulang tahunkan setiap 7 syawal. Pada saat itu pula digelarkanya Istilah “Hausihu” atau kobaran Api dengan kata lain “semangat berapi-api” kepada bekas pejuang Kapahaha yang tetinggal hingga saat ini dengan nama Negerinya Morella.<rusda>

Lisa e Haulala Lisa e Makana

Gerbang Kerajaan Morella-Kapahaha

Gerbang Kerajaan Morella-Kapahaha