Mengenang Bapak Yang Telah Tiada

Aku rindu lelaki itu
Lelaki yang mencintaiku
Menjelang senja Dia selalu terlihat menawan
Dengan sarung, baju koko dan peci putih
Aku rindu lelaki itu
Lelaki yang menyanyangiku
Di setiap subuh Dia yang duluan bangun
Bersiap ke kebung untuk pertahankan hidup keluarganya
Aku rindu..
Rindu sekali..
Lelaki tua itu..
Bernama Bapak.

Pada saat saya buat tulisan ini, mataku tak sanggup menahan cairan yang sejak tadi berkaca, hati ini begitu berat menanggung beban kerinduan yang entah pada siapa harus saya curahkan, kecuali pada Tuhan hanya Doa yang bisa dipanjatkan.

Saya juga bingun memulai dengan kalimat apa, biarlah mengalir apa adanya, sebab dalam tulisan ini saya hanya ingin mengenang dan menyampaikan kerinduanku pada seorang ayah yang telah tiada.

Dirumah kami memanggilnya Bapak, lelaki tangguh itu katanya pernah sukses di tahun 80-an, mungkin saya satu-satunya anak yang tidak menikmati kekayaan yang pernah bapak miliki pada saat itu.

Tapi saya tidak menuntutnya, karena cinta dan kasih sayang yang diberikan pada saya sudah cukup dari segalanya. Bapak itu tidak pernah pelit, buktinya saat beliau berada pada puncak kejayaan bisa membantu banyak orang. Tapi ya namanya hidup tidak mesti harus diatas kan? Setelah usahanya bangkrut, bapak kembali mengurus kebung pala, cengkih, manggis, langsat coklat, beberapa pohon kopi dll, Kebung dan tanah warisan bapak cukup luas, entah berapa ukurannya saya kurang tahu pasti, maklumlah karena saya anak perempuan paling bungsu kurang peduli dengan hal-hal begituan. Sesekali juga bapak dengan perahunya kelaut untuk menangkap ikan meski harus menerjang ombak, melewati angin dan menabrak hujan, namun semangatnya tak pernah mati.

Bapak Yang Baik Hati

Yang paling saya ingat dulu waktu SD setiap kali mau panen hasil kebung, bapak sering bilang nanti ajak teman-teman sekolah ya, senangnya saya bisa ngajak teman-teman se-kelas, bahkan sampai berada di tingkat SMA pun demikian, kalau bukan teman-teman sekolah yang diajak, Bapak itu pasti ngajak anak-anak tetangga buat panen bareng. Jadi semuanya bisa merasakan hasil panen kami.

Tahun 2003 saya masuk Perguruan Tinggi tepatnya di Universitas Pattimura Ambon, Bapak sebenarnya pengen saya ngambil jurusan Bahasa Inggris alasanya karena beliau ingin salah satu anaknya jadi Dosen Bahasa Inggris, tapi saat itu saya sedikit keras kepala tidak mau nurut kemaun Bapak. Karena saya pengen kuliah di Makassar biar bisa ngambil jurusan Sastra Indonesia, sejak dulu cita-cita saya pengen jadi Sastrawati, namun karena kakak-kakak saya juga sudah tidak tinggal dirumah, ada yang telah menikah, ada juga yang sibuk kerja dan satu kakak saat itu masih mahasiswa tingkat akhir , jadinya tinggallah kami bertiga saja, sehingga saya tidak diijinkan untuk keluar kota. Maka saya pun mengambil Jurusan Kimia Fakultas MIPA, meski tidak begitu mendapat respon dari Bapak, tapi saya selalu meyakinkannya bahwa kelak nanti saya pasti bisa membuatnya bangga.

Sejak menjadi mahasiswi saya jarang pulang kerumah, karena lebih banyak aktif di beberapa organisasi Intra dan ekstra kampus, selain sibuk jadi aktivis kampus saya juga sibuk mengajar di Yayasan Al-Wathan Ambon dan juga memberi kursus computer pada Yayasan Puslatmi Inovasi milik Pengurus Muhammadiyah Maluku. Kesibukan itulah yang menggangu kuliah saya, hingga saya mengalami keterlambatan untuk menawarkan mata kuliah wajib KKN (Kuliah Kerja Nyata).

Tahun 2008, barulah saya bisa melaksanakan KKN, salah satu mata kuliah yang menjadi prasyarat untuk mengusulkan proposal penilitian. Hal itu saya sampaikan pada Bapak, dan tahukan anda, saya melihat pancaran kebahagiaan tergambar di raut wajahnya, beliau tersenyum bahagia dan langsung mengajak saya belanja perlengkapan KKN, itu untuk pertama kalinya saya diajak oleh Bapak jalan-jalan sambil belanja, saking bahagianya bapak itu sampai bilang gini, Rus mau perlu apa untuk KKN bilang saja, nanti Bapak beli semuanya”,. Ach saya begitu terharu, padahal lokasi penempatan KKN belum juga ditentukan oleh pihak kampus.

Bapak begitu semangatnya membeli keperluan saya selama sebulan. Mungkin dalam benaknya saya akan ditempatkan pada Kabupaten yang jauh dari pusat kota, ech ternyata hasil yang kami lihat dari deretan daftar mahasiswa KKN, nama saya tercantum di wilayah Teluk Ambon saja, tepatnya Desa Nania yang tak jauh dari Kampus kami, kurang lebih 20 menit lamanya jika menggunakan angkutan umum.

Satu hal lagi yang paling saya ingat kebaikan Bapak itu, jika saya pulang kerumah sering ngajak teman-teman aktivis untuk main bahkan sampai nginap, Bapak itu senang sekali kalau saya datang ngajak teman, terkadang beliau suka nitip pesan ke teman-teman, “nanti jagain rus e”,. Nah kayak gitu cara Bapak perlihatkan cintanya, beliau suka nitip saya ke teman-teman biar saya dijagain. Kadang sebel juga dianggap seperti anak kecil. Meski demikian, Bapak, Ibu dan Kakak selalu memberi dukungan pada saya.

Jadi Fansnya Bapak

Usai menyelesaikan KKN saya tidak langsung mengusulkan proposal penelitian, jiwa dan pikiran saya masih muter-muter diluar kampus, buat kegiatan organisasi, punya kerja sampingan di sekolah dan lembaga kursus komputer. Karena saya tipe orang yang tidak bisa jadi mahasiswa saja, saya suka hal-hal baru penuh petualangan. Hingga pada tahun 2010 saya coba lagi profesi baru, ya hitung-hitung cari pengalaman, kebetulan ada salah satu media cetak di Ambon yang buka lowongan kerja, namanya Korang Spektrum Maluku, Alhamdulillah saya diterima, dan sejak saat itu Bapak mulai suka dengan tulisan saya.

Kalau pulang kerumah, Bapak itu pasti nanya, “mana korang?, mana beritamu?”, dan saya pun menunjuk di halaman sekian, padahal tulisan saya tidak begitu bagus, karena masih jadi pemula juga, mungkin bapak suka cara saya, beliau juga memberi dukungan, jika ada hal-hal baru Bapak sering bilang,coba kamu buat tulisannya lalu muat di media. Bapak tidak hanya memberi dukungan pada hoby saya saja, tapi juga memberi dukungan dan kepercayaan pada siapa saya berteman, Kalau ada teman-teman wartawan dan fotografer yang main kerumah, Bapak pasti senang, bahkan pernah bilang teman-teman saya itu istimewa (ach Bapak itu lucu ya..?).

Pesan Bapak Yang Tidak Terlupakan

Waktu pun berlalu, sampai tahun 2011 saya dapat gelar Sarjana Sains (S.Si.,), Dua bulan setelah digelarnya acara wisuda saya ditawarkan untuk kerja pada Unit Pengelola Kegiatan (UPK) PNPM Mandiri Perdesaan Kecamatan Leihitu sebagai Sekertaris, awalnya saya agak ragu untuk terima tawaran tersebut, namun setelah saya diskusikan dengan kedua orang tua ternyata mereka menyetujuinya, saat itu Bapak berpesan untuk bekerja dengan hati, jujur serta utamakan hak orang banyak. Saya pun langsung mengajukkan surat pengunduran diri saya sebagai wartawan dari Korang Spektrum Maluku.

Kurang lebih setahun saya bekerja sebagai sekertaris UPK di PNPM Mandiri Perdesaan, saya dipromosikan oleh Fasilitator untuk bisa ikut seleksi Asisten Manajemen Informasi Sistem di PNPM Mandiri tingkat Kabupaten, alhasil saya lolos juga dan pada September 2012 saya langsung dapat Surat Perintah Kerja (SPK) di Kabupaten Maluku Tengah. Saya pun harus meninggalkan orang tua dan teman-teman di Ambon.

Beruntung hanya 11 bulan saya bertugas di Kabupaten Maluku Tengah, karena pada saat itu saya kembali di promosikan oleh seorang teman yang kebetulan adalah salah satu penanggung jawab dari PT. Innerindo sebagai Perusahaan Penggelola Administrasi untuk Kantor Konsultan PNPM Generasi Sehat dan Cerdas Provinsi Maluku.

Alhamdulillah saya bisa kembali, beraktivitas seperti dulu, kerja dan berkomunitas di wilayah Kota Ambon, namun saya lupa untuk kumpul dengan keluarga, begitu egoisnya saya saat itu, karena jarang pulang ke rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor serta menyalurkan hoby bersama teman-teman.

Seiring berjalannya waktu, Ibu saya jatuh sakit dan sering dibawah ke dokter, saat itu barulah saya meluangkan waktu untuk pulang ke rumah. Suatu ketika Bapak memanggil saya untuk membicarakan kondisi Ibu, banyak yang kami bicarakan, namun yang paling saya ingat saat itu, Bapak berpesan agar saya bisa luangkan waktu untuk pulang kerumah jika tidak ada kerjaan di kantor.

“ Rus, kalau tidak ada kesibukkan di kantor pulang sedikit ke rumah, karena rus bisa jadi hiburan di rumah untuk mama”, begitulah permintaan Bapak, mendengar kata-kata itu, hati ini seperti teriris, entah sudah berapa banyak kesempatan yang terlewati, selama ini hanya memikirkan diri sendiri mengejar karir, melakukan hoby dengan teman-teman, meskipun ada banyak hal yang membuat mereka bangga, namun tanpa disadari selama ini saya telah mengabaikan mereka.

Pesan Bapak untuk selalu pulang kerumah, sebenarnya bukan karena Ibu yang sering sakit, namun saya yakin bahwa Bapak juga merindukkan anak-anaknya untuk selalu berkumpul dirumah. Hingga pertengahan tahun 2015 bapak jatuh sakit, beruntung kakak perempuan saya yang sulung adalah seorang Bidang sehingga orang tua kami dengan mudahnya bisa dirawat.

Saat-saat Terakhir Bersama Bapak

Desember 2015, penyakit bapak mulai kambuh, kali ini benar-benar mengkhuatirkan kami sekeluarga, bahkan saudara-saudara Bapak terpaksa harus menginap dirumah untuk menemani Bapak yang sakit. Pada tanggal 11- 14 Desember 2015 lalu, saya sedang berada di Jakarta untuk mengikuti Kopi Darat terbesar Para Blogger di Indonesia yang di laksanakan oleh Kompasiana.com salah satu media warga, kegiatan bergensi itu dinamai Kompasianival atau Festival Kompasianer, sebenarnya kegiatan itu hanya berlangsung selama dua hari terhitung sejak tanggal 11-12 Desember 2015, namun kami sengaja menambahkan waktunya untuk beberapa keperluan yang harus diselesaikan di Jakarta.

Tepat malam rabu (14 Desember 2015) telpon genggam saya berbunyi, rupanya ada panggilan dari nomor kakak perempuan, setelah saya angkat, pertanyaan pertama yang ditanyakan melalui telpon genggam itu adalah kapan pulan ke ambon?, dan beginilah percakapan kami:

Kakak ; “ Rus kapan pulang?, bapak sekarang sakit keras, dari tadi tanya-tanya rus terus,”

Saya : “besok pagi sudah pulang kok”, bapak Tanya gimana?”, saya kembali melontarkan pertanyaan.

Kakak : “bapak Tanya, kenapa rus belum pulang?, kapan rus pulang?”,

Saya : “iya, tolong bilang bapak, besok jam 8 pagi beta sudah di Ambon, karena pesawat dari Jakarta jam 3 waktu Jakarta, di ambon jam 5 subuh.”.

Kakak : “iya, kalau sudah di Ambon, langsung pulang ke rumah e?”. Tegas kakak untuk mengingatkan saya kembali.

Saya : “iya, nanti kalau sudah sampai Ambon, beta langsung ke rumah”.

Dan kami pun mengakhiri percakapan itu, tidak terasa air mata saya langsung berderai di pipi, ingin segera pulang ke Ambon menemuinya. Pada saat itu saya dan beberapa teman yang dari Ambon baru saja melakukan kunjungan ke Kantor Kompas Gramedia Jl. Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Dalam perjalanan menuju tempat penginapan perasaan ini benar-benar sudah tidak enak. Karena ingin segera pulang ke Ambon. Entah kenapa tangan saya pun mulai memencet tombol-tombol telpon genggam, maka jadilah sebuah puisi pendek:

Ayah.. Tunggulah sebentar
Aku akan pulang menemuimu
Ayah… Sabarlah sebentar
Karena malam ini akan berganti pagi
Kita akan bertemu dan bersua
Ayah …Tunggulah dirumah
Karena aku pasti datang
Ada oleh-oleh untukmu, ada salam untukmu
Kau pasti senang, sebab ini salam Presiden
Ayah.., Jangan sebut namaku terus didepan mereka
Karena itu membuatku gelisah Ayah…
Tunggulah sebentar
Aku akan pulang menemuimu
Jakarta, 14 Desember 2015.

Usai memencet tombol telpon gengam saya, barulah perasaan ini legah, tak perduli kalimat yang bagus untuk penyusunanya, namun setidaknya saya sedikit tenang. Bahkan dalam diam pun hati ini terus berdoa untuk kesembuhan kedua orang tuaku.

15 Desember 2015, 08.00 WIT kami tiba di Ambon dengan selamat, saya berencana untuk langsung pulang kerumah, namun 10 menit setelah keluar dari bandara Pattimura saya menerima panggilan lagi dari kakak, dalam percakapannya di telpon dia mengabarkan bahwa bapak sudah dilarikan ke Rumah Sakit Umum Tulehu. Akhirnya rencana pun berubah, semua bawaan dari Jakarta saya taruh di rumah kontrakan dan bergegas menemui Bapak di Rumah Sakit. Setelah sampai dirumah sakit, melihatnya sedang tertidur pulas, namun kakak membangunkannya untuk memberitahu kepulanganku, beliau pun langsung bangun dan duduk, kami sempat bercakap-cakap, dan seperti biasa yang sering saya lakukan di rumah kalau lama tidak bersua bersama Bapak Ibu adalah bercerita tentang aktivitas saya diluar, ya semacam laporan perjalanan dinas gitulah kalau di kantor-kantor. Cuma bedanya laporan ini disampaikan secara lisan.

Melihat kondisinya yang sangat lemah, kurus dan kulit yang sudah keriput, membuat hati ini tak sanggup menahan kepedihan. Namun saya mencoba untuk tetap tegar dihadapannya, saya pun bercerita tentang aktivitas saya di Jakarta selama beberapa hari itu, berharap dengan cerita saya bisa membuatnya bahagia meskipun masih dalam kondisi sakit. Tanpa basa-basi saya langsung menyodorkan foto di Handphoon saya sambil bertanya ke Bapak :

Saya : “Bapak kenal orang ini yang di foto?”

Bapak : “Yang mana”, Tanya bapak.

Saya : “itu yang lagi duduk, pakai kemeja putih”

Bapak : “itu kayak Jokowi?”, Tanya bapak namun sedikit ragu, dalam hati saya senang, karena penglihatan bapak masih jelas.

Saya : “kalau yang lagi bicara di depan mix, pakai baju warna pink, bapak kenal..??”

Bapak : “itu sapa?”, bapak kembali bertanya dengan ragu, namun saya yakin bapak pasti mengenal perempuan berbaju pink yang ada pada foto tersebut.

Saya : “hhhhmmm, itu beta yang pakai baju pink, lagi bicara depan Jokowi, di Istana Presiden”, sambil meyakinkan bapak.

Bapak : “hehehe…”, bapak hanya tertawa sedikit, senyum sedikit sambil keherangan.

Saya : “ iya benar itu beta yang pakai baju warna pink, lagi bicara di depan Jokowi di Istana Presiden”, sengaja saya ulangi meyakinkannya, beharap bapak bisa percaya.

Alhamdulillah, bapak pun percaya sambil menghela nafasnya dalam-dalam, mungkin itu pertanda beliau bangga dan senang atau sesak nafas, entahlah, tapi saya melihat raut wajah yang tadinya sayu berubah menjadi ceria.

Cuma empat hari bapak dirawat di Rumah Sakit Umum Tulehu, setelah itu Bapak kembali ke rumah dan saya pun beraktivitas seperti biasa.

Namun Januari 2016, penyakit Bapak kambuh lagi, padahal kondisi Bapak sudah sedikit baikan, apalagi dengan kepulangan dua kakak perempuan saya, yang satu dari Temanggung Jawa Tengah pulang bersama keluarga kecilnya, dan yang satunya lagi dari Ternate Maluku Utara, sehingga rumah kami kembali diramaikan oleh penghuni baru yakni cucu-cucu Bapak yang semakin bertambah. Saya kira kondisi bapak akan sembuh seperti ibu yang sudah 90% baikan setelah rumah kami dipenuhi oleh anak dan cucu-cucu mereka.

Tanggal 23 Januari 2016, bapak kembali dilarikan ke Rumah sakit Umum (RSU) Dr. Haulussy Ambon, dan sempat dirawat pada ruang Unit Gawat Darurat (UGD) selama empat jam, barulah dipindahkan ke ruang Paru-Paru untuk melanjutkan rawat nginap. Selama di RSU saya tidak pernah nginap untuk menemaninya, karena sudah ada kakak yang menjaganya, saya hanya bisa menemaninya usai jam Kantor sampai pukul 20.00 WIT saja. Sama seperti di RSU Tulehu, bapak tidak betah lama-lama di Rumah Sakit, karena beliau sudah ingin pulang ke rumah, sehingga pada tanggal 26 Januari 2016, kakak saya meminta pada pihak RSU agar bapak dipulangkan dulu.

Tanggal 28 Januari 2016, tepat pukul 21.00 WIT saya mendapat beberapa panggilan melalui telpon genggam dari kakak laki-laki, namun suara telpon tidak terdengar, getaran pun tidak terasa, dikarenakan Handphoon saya tersimpan dalam saku tas hitam yang saya bawah, saat itu juga saya lagi menghadiri jamuan makan malam di kediaman Gubernur Maluku Ir. Said Assagaf bersama Menteri Pendidikan Anis Baswedan dan tokok-tokoh yang peduli dengan pendidikan di Maluku. Saya benar-benar tidak mengetahui adanya panggilan itu, namun setelah ditelpon kembali barulah saya mengetahuinya.

Pada percakapan kami di telpon, kakak saya mengabarkan kondisi Bapak yang semakin parah, dan dia menginginkan untuk pulang kerumah malam itu juga, dan saya pun menyetujuinya.

Hari Terakhir Bersama Bapak

Pada saat sampai dirumah, keluarga Ibu dan keluarga Bapak yang lain sudah dirumah jagain Bapak bahkan ada yang zikir. Perasaan saya biasa saja tak ada firasat buruk apapun, namun keesokan harinya barulah hati ini menjadi gundah.

Jumat, 29 Januari 2016, merupakan tanggal bersejarah yang tidak mungkin terlupakan, pasalnya di hari itu merupakan hari terakhir kami sekeluarga menyaksikan hembusan nafas terakhir Bapak.

Pagi itu, sekitar pukul 09.00 WIT, saya temanin Bapak, mendengarkan semua yang beliau bicarakan, memberinya makan, membelai rambutnya yang sudah memutih, mengusap dadanya yang sering sesak bernafas, Bapak terlihat sangat kurus, hari itu saya tidak masuk kantor, pesan singkat untuk meminta ijin pada atasan sudah saya kirim via WA dan sms.

Ada permintaan aneh dari bapak, katanya ingin dimandiin karena sebentar lagi Bapak mau pulang, berkali-kali Bapak ngomong mau pulang, “sedikit lagi beta mau pulang”, begitu ungkapnya pada kami, bahkan beliau meminta saya mencukur rambutnya sebelum pulang, namun permintaan itu tidak saya indahkan, karena mungkin beliau lagi panas tinggi. Sedang kami hanya bisa membersihkan tubuh Bapak dengan air bersih dan sabun mandi, dari kepala hingga kaki, setelah itu kami masih sempat taburi bedak ditubuhnya sesuai anjuran dokter, agar tubuh bapak terasa segar dan wangi.

Waktu berlalu, hingga pukul 14.00 WIT, orang-orang baru saja menyelesaikan Jumatan, dan kami dirumah sedang mengaji dan zikir. Hingga sekitar pukul 21.45 WIT, bapak sudah berada pada masa-masa kritis, kami semua mengelilinginya. Saya pun tak mau meninggalkan kesempatan itu, saya bacakan Surah Yasin disamping kanan Bapak, sementara Paman saya juga melantungkan zikir disampingnya. Sejak siang itu, Bapak memang sudah melapalkan asma Allah Laaillaha Ilalallah berkali-kali keluar dari mulut bapak, meski tidak begitu jelas.

Sambil membacakan Surah Yasin, mata saya selalu melirik pada tangan Bapak, hingga binar-binar air mata menghalangi pandangan, tulisan arab itu seperti tidak jelas karena mata ini sudah berair, suara lantang saya menurung pelang karena tak bisa menahan kesedihan, saya tak sanggup untuk mengangkat wajah ini, air mata terus berderai membasahi pipi, namun saya tak mau berhenti bacakan kalimat-kalimat Allah. Saya terus melanjutkan Yasinan itu dengan suara terbata-bata.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan pelang mulai mengusik ruangan, tangan Bapak sudah tidak bergerak dan diangkat keatas perut layaknya orang yang tidak bernyawa, Bapak telah meninggal, dan saya masih tidak percaya, satu persatu saya bacakan ayat-ayat suci pada Surah Yasin hingga selesai barulah saya berdiri.

Nampak semua wajah pada saat itu terlihat sedih, lalu saya bertanya, “apa ini sudah selesai..?”, seorang kakak sepupu menjawab pertanyaan saya, “iya, sudah selesai?”, mendegar jawaban itu, seketika dunia ini terasa gelap sekali, melihat Bapak tertidur kaku, kami sekarang dalam hitungan detik langsung menjadi yatim sementara perempuan tua yang duduk di kursi itu menjadi janda.

Saya tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi membasahi kedua pipi ini, ingin berteriak tapi tak bisa, maka pada kamarlah saya berlari dan menangis diatas tempat tidur. Sambil bergetar tangan ini memegang telpon gengam untuk memberi kabar pada semua keluarga yang belum pulang.

Ya, Bapak telah pergi tepat hari Jumat tanggal 29 Januari 2016, pukul 22.02 WIT, saya kehilangan sebagian jiwa dan raga, saya kehilangan seseorang yang sering mendoakan kami, saya kehilangan satu pembawah rahmat, saya kehilangan satu orang tempat perolehan amal anak sholeh, saya kehilangan satu penyemangat hidup, saya kehilangan laki-laki yang mencintaiku, saya kehilangan satu hati yang hangat. Dan tinggallah satu orang tua tempat kami berkeluh kesah, tempat kami memperoleh amal, dialah ibu kami, istri bapak yang saat ini telah menjadi janda, semoga diberi umur panjang, kesehatan dan kesabaran.

Ya Allah…

Tempatkan Bapak kami disisiMU, Ampunilah segala dosa kedua orang tua kami dan berilah kami kesabaran dan kekuatan dalam menjalani setiap ujian dan cobaan. Aamiin. (RUS).

Keterangan :
Rus : Nama panggilan di rumah
Beta : Saya
*****
Tulisan ini hanya sebagai pelampiasan rindu seorang anak pada sosok Ayah yang telah tiada, Tak ada maksud untuk menyombongkan diri atau memperlihatkan kepedihan.
Salam
Ambon, 17 Februari 2016