Negeri Ema Yang Dilupakan Bangsa

Foto Dok: Maitimu Erween Leonardo

Foto Dok: Maitimu Erween Leonardo

Saat kaki menginjak tanah
Di Negeri yang katanya banyak cerita
Di kiri kanan terlihat hutan
Sungguh tentram mata memandang
Hati bahagia karena disambut dengan kasih
Baru sekali beta disitu
Entah mengapa rindu kembali

Negeri yang damai itu
Terletak di gunung
Tapi sayang jalannya rusak, berbukit, tidak terurus
Bila datang air dari langit
Ibu – ibu penjual hasil hutan
Tak bisa turung ke pasar
Anak-anak tak bisa belajar
Karena guru ragu mendaki

Itulah ungkapan hati yang bisa saya tulis saat tiba di Negeri Ema, sebuah Desa kecil yang berada pada Jazirah Leitimur Selatan Kota Ambon Provinsi Maluku. Pemandangan yang berbeda dari kampung halamanku sendiri, ini benar-benar membuat saya seperti berada pada dunia lain. Bayangin saja untuk mencapai Desa Ema kita harus mendaki dulu sekitar satu kilometer, dan sepanjang perjalanan saya merasakan panas dan lelah karena tak ada tempat peristirahatan, belum juga jalan yang rusak, batu-batuan kecil bisa mengancam pendaki jika tidak berhati-hati.

Namun rasa lelah dan panas itu hilang seketika setelah saya dan beberapa teman-teman lainnya tiba di puncak Ema, kami disambut ramah oleh masyarakat setempat, di suguhin minuman dan duren segar salah satu hasil hutang, setelah itu kami mulai berkeliling kampung. Alam pun tak mau kalah, menyambut kami dengan langit yang cerah, pemandangan hutan dan gunung seakan ingin memanjakan mata, rasa lelah saat pendakian itu hilang seperti sudah terbayar, dan yang paling berkesan pada saya karena di pusat perkampungan Ema masih ada pohon-pohon besar yang umurnya sudah beratus tahun, pemandangan alam seperti ini tidak saya temui di kota.

Minggu, 19 April 2015 lalu, saya dengan sepuluh teman lainnya berkumpul di rumah Paparisa sekitar pukul 14.00 WIT kami mulai melakukan perjalanan menuju Negeri Ema yang berjarak 8 km dari Kota Ambon, kedatangan kami bukan untuk peknik atau sekedar datang dan pergi, kami yang berasal dari latar belakang yang berbeda ini memiliki misi yang sama ingin membantu masyarakat Ema, karena selama ini Negeri Ema kurang mendapat perhatian dari pemerintah, padahal di Negeri Ema lahirlah salah satu Pahlawan Nasional dr. Johannes Leimena, salah satu tokoh bangsa yang memiliki gagasan Puskesmas dan digunakan di seluruh Indonesia sampai saat ini.

Negeri Ema yang memiliki ± 800 jiwa penduduk ini, secara umum masyarakatnya 80% adalah petani. Letak geografis Negeri Ema adalah berada ± 400 meter diatas permukaan laut, sebelah timur berbatasan dengan negeri Leahari, sebelah barat berbatasan dengan Kilang dan Naku, sebelah utara dengan negeri Hukurila, sebelah selatan dengan negeri Soya (Sumber : Elion Tupan, Badan Saniri Negeri Ema)

Negeri Bersejarah

Ini untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Negeri Ema, namun beberapa informasi yang pernah saya dengar tentang sejarah dan budayanya seakan membuat penasaran, tak mau membuang waktu saya pun mencoba untuk mencari tahu, beruntunglah ada teman yang merupakan warga Ema dengan senang hati memperlihatkan salah satu peninggalan benda bersejarah yakni Tombak Majapahit.

Konon katanya,  pada abad ke-14 putri Raja dan rombongan dari Kerajaan Majapahit diutus oleh Paduka Raja untuk bersekutu dengan para kapitan di bagian Timur wilayah Nusantara. Ada beberapa Kapitan di wilayah Timur (Maluku) saat itu, antara lain kapitan Tanahatu Meseng atau kapitan Kerajaan Hitu. Salah satu kapitan perkasa di Leitimor adalah kapitan negeri Ema Tanihatuila.

Putri Paduka Raja Majapahit secara khusus diutus untuk bersekutu dengan kapitan Tanihatuila dari negeri Ema. Dalam pelayarannya sang putri membawa sebuah peta, gendi emas sebagai tempat air minum, tombak dan seperangkat gending/gamelan (=toto buang). Pada pinggangnya terselip sebuah keris pusaka untuk menghadapi kesaktian kapitan negeri Ema (Sumber : ihuresy). Hingga saat ini peninggalan itu masih dijaga dengan baik.

11169250_1071614149518655_3387502901047864892_n

Tombak Majapahit Foto Dok: Maitimu Erween Leonardo

Menurut sejarah, Negeri Ema berasal dari Teluti Seram Utara, mayoritas masyarakat beragama Kristen Protestan, dan memiliki enam Soa yakni Soa Soalisa, Soa Sapariti, Soa Pelelatu, Soa Peilani, Soa Sama Sima, Soa Haulaki, Negeri Ema memiliki pranata adat yangg masih di pelihara baik, (Sumber : Elion Tupan, Badan Saniri Neger Ema). Menurut Elion Tupan  bahwa Negeri  Ema memiliki situs budaya yang sampai sekarang masih di jaga dan yang paling menonjol adalah Air Majapahit, namun sayang sekali pada petualangan saya di hari pertama tidak bisa berkunjung ke Air tersebut, selain Air Majapahit menurut warga setempat bahwa di Negeri Ema juga terdapat Air Islam yang sudah tidak mengalir lagi namun jika dikunjungi oleh warga Muslim air itu akan mengalir sendiri Waallahualam, informasi ini sangat membuat saya dan beberapa kawan-kawan penasaran, namun karena waktu kita sangat terbatas, jadi ditunda lagi untuk hari berikutnya. Negeri Ema  dengan segala peninggalan sejarahnya masih di rawat dengan baik.

Keluhan dan Kesedihan Masyarakat Ema

Setelah melihat beberapa peninggalan sejarah tersebut, tak lama kami di panggil oleh Pemerintah Desa untuk berkumpul di Aula Balai Pemerintahan yang sering disebut juga Rumah Negeri Ema oleh masyarakat setempat , kami bertemu dengan sekertaris Desa, Saniri (Badan Permusyawaratan Desa), dan beberapa perwakilan pemuda setelah memperkenalkan diri dengan maksud kedatangan, kami juga mendengar keluhan dan persoalaan yang dihadapi oleh Masyarakat, hal ini disampaikan oleh Sekertaris Negeri  Ema, M. Sariwating, bahwa Negeri Ema selama ini kurang diperhatikan oleh Pemerintah, mulai dari akses jalan yang sampai saat ini tidak selesai, tidak ada petugas Puskesmas, bahkan guru yang berkewajiban untuk mendidik siswa-siswa di Ema pun jarang hadir, hal ini karena jalan raya menuju Negeri Ema belum di aspal, dan kondisinya sangat memprihatinkan, apalagi jika turung hujan hampir semua aktivitas warga Ema yang ingin ke Kota harus berhenti.

Begitu amat dalam kesedihan yang saya rasakan saat suara yang tegas itu mulai terbata-bata, mata yang sudah berkaca, suasana forum begitu hening, dan satu persatu mulai mengeluhkan masalah mereka. Gustav Tanihatu yang merupakan Ketua Persatuan Pemuda Pelajar Ihuresi Ambon sangat berharap agar pemerintah bisa segera menyelesaikan proyek jalan raya, agar aktivitas warga tidak terganggu. Berbeda dengan Elion Tupan yang merasa seperti belum merdeka, dengan suara yang nyaring, tegas menyuarakan isi hatinya, namun matanya menggambarkan kesedihan warga Ema .

” Rasanya ingin melipat Bendera Merah Putih untuk dikembalikan pada Negara, karena kami seperti belum merasakan kemerdekaan, jalan menuju ke Ema seperti jalan politik, kami tidak mengerti dengan pikiran Pemerintah Kota”.

Begitulah ungkapan Elion Tupan yang membuat saya merinding, terlalu miris, Negeri Ema yang melahirkan Pahlawan Bangsa kondisinya seperti ini. Dimana pemerintah yang sebenarnya? Masyarakat Ema juga bagian dari NKRI tapi nyatanya sampai saat ini seperti dilupakan.

Negeri Ema Yang Dilupakan Negaranya Sendiri

Jalan rusak, tidak ada petugas Puskesmas, Guru jarang datang ke sekolah. Jadi wajar saja kalau sering terjadi kecelakaan, dan masih ada siswa yang tidak lulus sekolah. Kondisi ini sudah lama dirasakan oleh masyarakat Negeri Ema, namun mereka terlalu sabar untuk menanti janji pemerintah. Bahkan proyek jalan yang sudah direncanakan sejak tahun 1997 dengan anggaran 1,4 M sampai saat ini tidak selesai juga.

Padahal sudah 69 tahun Indonesia merdeka, Namun Negeri Ema masih jalan ditempat dan seperti dilupakan, para elit politik hanya datang dengan janji untuk memperoleh suara, setelah itu masyarakat Ema di abaikan, beberapa kali mereka menegosiasi dengan Pemerintah Kota Ambon, namun sampai saat ini belum juga diindahkan.

Pada saat kami berdialog dengan Pemerintah Desa dan perwakilan warga Ema (Minggu,19/04) lalu, mereka berkali-kali mengeluhkan ketidak jelasan proyek jalan tersebut, bahkan jika melihat letak geografis Negeri Ema dengan anggaran 1,4 M tidak akan cukup untuk menjawab kebutuhan. Selain dengan posisinya yang berada pada ketinggian, jalan Ema juga banyak terdapat jurang serta kondisi tanah yang mudah longsor.

Semoga Pemerintah yang terhormat dapat tergerak hatinya untuk menyelesaikan persoalaan-persoalan di Negeri Ema, dan saya bersama teman-teman yang menamakan diri Gerakan Untuk Ema akan tetap memperjuangkan hak masyarakat Ema. Sebelum saya menutup tulisan ini, saya ingin berbagi sedikit kutipan dari salah seorang Badan Saniri Negeri Ema M. Tanihatu yang cukup manis di dengar;

“kami hanya sebutir pasir kecil, dan saudara-saudara datang sebagai sebutir pasir kecil juga ingin merasakan kesedihan kami, semoga menjadi sekumpulan pasir yang banyak”

Demikian  tulisan saya kali ini, kisah di Kampung halaman seorang Tokoh Bangsa Jo Leimena yang tidak diperhatikan oleh Pemerintah.

Foto bersama Tim EMA BERGERAK

Foto bersama Tim EMA BERGERAK