Sejarah Tari Sapu Lidi Morella

Atraksi tari Sapu Lidi telah menjadi tradisi adat di Negeri Morella sejak Tahun 1646, tari ini mulanya adalah permainan anak-anak di saat Benteng Kapahaha masih jaya.

Namun setelah jatuhnya para pejuang-pejuang Kapahaha ditangan VOC pada tanggal 25-27 Juli 1646, para malesi-malesi dengan seluruh rakyatnya ditawang di markas VOC Belanda di Teluk Sawatelu. Kapitang Telukabessy tertangkap dan diantar ke Kota Latania Ambon(Benteng Victoria) dan dihukum gantung pada tanggal 3 September 1646 di depan Benteng Victoria.

Pada tanggal 27 Oktober 1646 Gubernur Gerard Demmer membebaskan pejuang-pejuang Kapahaha yang ditawang di Teluk Sawatelu. Pembebasan tawanan perang kapahaha diadakan dengan pesta perpisahan. Maka pada acara pesta perpisahan ini dipentaskan tari-tari adat yang bernafas sejarah dengan nyanyian lagu-lagu kapata sejarah dan turut pula dengan serombongan pemuda kapahaha mempertunjukan tari Sapu Lidi.

Pada saat itu para malesi-malesi yang bertarung dalam perjuangan perang Kapahaha dari pihak Pata Siwa, Pata Lima maupun suku Bugis Makassar sangat tertarik dengan tari tersebut dengan luka-luka berdarah selalu membangkitkan semangat para pejuang.

Setelah selesainya acara pesta perpisahan, maka dengan tekad bersama dengan tiga Malesi sebagai pimpinan dari tiga sawat atau rombongan masing-masing hendak kembali pulang kedaerahnya masing-masng yaitu; jurusan Huamual,Buru dan sekitarnya,Iha Ulupalu di Saparua, Hulawano di Nusalaut, satu sawat menuju Seram Kaibonu, Tihulele, Latu, Tamilou dan Manusela. Ada juga Malesi-Malesi dari luar Maluku yang disebut suku Mahu diantaranya Bugis Makassar dll.

Perpisahan sangat berkesan dengan pekikan-pekikan dan cucuran air mata serta sumpah setia dengan satu ikrar dan menetapkan atraksi Sapu Lidi menjadi tradisi adat dan membudaya disepanjang masa, diulang tahunkan setiap 7 syawal. Pada saat itu pula digelarkanya Istilah “Hausihu” atau kobaran Api dengan kata lain “semangat berapi-api” kepada bekas pejuang Kapahaha yang tetinggal hingga saat ini dengan nama Negerinya Morella.<rusda>

Iklan

Perihal roesda11
Menghargai Pertemanan dengan siapa saja, tanpa melihat latar belakangnya, suka puisi dan juga photografy.

9 Responses to Sejarah Tari Sapu Lidi Morella

  1. zipoer7 says:

    Salam Takzim
    maap komentar baru di tari sapu lidi, nggak sakit apa roes di sabet lidi,
    apa ada manteranya
    Salam Takzim Batavusqu

    • russ says:

      seperti yg sudah dijelaskan, bahwa tari sapu lidi ini sudah membudaya dari tahuan1646, masalah sakit atau tidaknya itu tergantung dari niatnya pemain, yang pastinya tradisi ini sudah menjadi kewajiban untuk harus dilaksanakan, bahkan para pemuda Morella tidak akan disebut dirinya Lelaki jika belum pernah ikut dan memainkan tari tersebut.. tidak ada mantra dalam permainan tersebut,semuanya berjalan alami, dengan satu tekad Lisa e MAkana Lisa e Haulala,yang artinya maju terus mantang mundur(ini adalah semboyang para leluhur kita yang mempertahankan Benteng Kapahaha dari Penjajahan Belanda), stelah permainan usau,luka -luka tersebut diobati dengan Getah daun Jarak yang mengandung anti biotik, selang waktu 3 hari luka tersebut sudah mengering.

  2. kamal says:

    pintar-pintar lah menulis,. apa lagi terkait dengan sejarah.pastikan anda benar-benar tau atau kuasai apa itu sejara.

  3. kamal says:

    da sdikit pertanyaan apakah sampai skarang msi pake daun jarak ?…….

    • roesda11 says:

      Kamal : sampai sekarang pengobatan tradisional di Negeri Morella masih ada, khusus untuk pengobatan luka dgn getah daun jarak pun masih ada.
      karena getah jarak pun berkhasiat menghentikan perdarahan akibat luka. Getah jarak bersifat antimikroba sehingga dapat mengusir bakteri seperti jenis Staphylococcus, Streptococcus, dan Escherichia coli.
      terimaksih dah mampir di blog ku

  4. redalatukau says:

    daun apa,’

  5. sebenarnya kalau tarian adat baku pukul manyapu itu di rayakan pas tanggal lepasnya para tawanan voc berarti hari perayaannya itu harus di raya kan pas tanggal itu juga, bukan tanggal 8 syawal sebagai hari perayaan pukul sapu,..
    dan tempatnya harus di sawa telu juga, bukan di depan mesjid,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: