Hari Pahlawan Nasional

Tanggal 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan Nasional , so sebagai anak bangsa jangan sampai lupa hari tersebut…, setujuh kan????

Sebagai  Warga Negara Yang baik, saya sadari betul belum sebarapa pengorbanan yang saya berikan pada Bangsa ini, namun ijinkanlah Hati ini berbicara akan sebuah kejujuran, untuk sahabat-sahabat saya dimana pun berada, dengarkan hati ini berbicara, sampai kadang menangis, sedih melihat dan merasakan betapa Miskinnya hati orang-orang yang serakah, namun saya bangga terlahir sebagai  Orang Indonesia, karena itu.. di Momen Hari Pahlawan ini, saya ingin berbagi hati dengan anda semua..

 

Untukmu Kawan, Kenanglah Dia disana

 

Terkubur ….. Terkubur sudah

Jasadmu berkalang tanah

Sepi dipermukaan, tinggal nyanyian sunyi

Menyedihkan…

Akan hari, zaman dan manusia pada saat itu

Lenyap tak berarti hilang…

Sirna bukan tiada…

Karena kau ada disetiap dada dan semangat generasi pewaris bangsa

Diam tak berarti lupa…

Karena kau hadir dan tumbuh ditaman hati anak bangsa

Nyalakan api di dadadmu…

Jangan biarkan dia padam tersiram keserakahan dan ketamakan,

Menjual harga diri bangsa, demi sebongkah ambisi yang berujung derita,

Nestapa bagi semua jiwa bangsa.

Bakarlah…

Bakarlah setiap tirani yang tumbuh subur

Dan tengah berpesta

Bakarlah niat busuk, perongrong bangsa

Tunjukan pada mereka perisai pembela bangsa

Yang selalu setia, berdiri disetiap masa

Dibawah naungan Pancasila

Sampai hari cerah itu pun tiba

Dihadapan kita

Merdeka….

 

By ; Rusda Leikawa

 

Iklan

Duel Darah Tanpa Dendam

Duel darah tanpa dendam, itulah yang terjadi di Negeri Morella, Sepasang pemuda bertelanjang dada saling mencambuk punggung dan dada pasangannya hingga berdarah dengan puluhan lidi enau dengan panjang rata-rata sekitar 1,5 meter, dibawah terik matahari  yang begitu terasa panasnya para pemuda itu pun menunjukan keberanian dan ketangkasannya, luka dan percikan darah yang terlihCIMG1036at ditubuhnya pun tidak mengurungkan niat apalagi  menimbulkan rasa dendam, akan tetapi justru sebaliknya membangkitkan semangat mereka, bahwa apa yang meraka rasakan ditubuhnya saat ini, tidak sebanding dengan apa yang telah dipertaruhkan oleh para pejuang, pada perang berdarah di benteng kapahaha yang telah berlalu. Hal ini sudah menjadi tradisi tahunan sejak tahun 1646 M dan turun- temurun sampai sekarang.

Minggu 27 september 2009/ 7 syawal 1430 H, didepan Mesjid Raya Al-Muttaqim Morella , tradisi Pukul Sapu Lidi ini diselenggarakan, tidak seperti biasanya ,kali ini turut pula yang hadir sejumlah raja dan perwakilan dari kerajaan-kerajaan se-Nusantara dalam acara ritual adat tersebut, mereka adalah KRAT Masud Toyib Hadiningrat (Kerajaan Solo), Raja Gede Surata (Kerajaan Bali) dan Raja Zainal (Putra mahkota Kerajaan Fatagar Fak-Fak), Raja Abdul Hakim Ahmad Aituarauw (Raja Kaimana), Putri Mahkota Hedi (Kerajaan Kaimana). Tampak pula ribuan pengunjung yang berdesak-desakan untuk menyaksikan acara tersebut. Seusai prosesi pukul sapu lidi, tubuh para pemuda yang sudah terluka diobati dengan getah daun Jarak. Meskipun tubuhnya terluka namun tak ada dendam diantara mereka, itulah keunikannya. Tradisi Pukul Sapu Lidi merupakan  suatu aset budaya Indonesia, Maluku dan orang Morella pada Khususnya, olehnya itu harus terus dipelihara dan dikembangkan.  <rusda>

Sejarah Tari Sapu Lidi Morella

Atraksi tari Sapu Lidi telah menjadi tradisi adat di Negeri Morella sejak Tahun 1646, tari ini mulanya adalah permainan anak-anak di saat Benteng Kapahaha masih jaya.

Namun setelah jatuhnya para pejuang-pejuang Kapahaha ditangan VOC pada tanggal 25-27 Juli 1646, para malesi-malesi dengan seluruh rakyatnya ditawang di markas VOC Belanda di Teluk Sawatelu. Kapitang Telukabessy tertangkap dan diantar ke Kota Latania Ambon(Benteng Victoria) dan dihukum gantung pada tanggal 3 September 1646 di depan Benteng Victoria.

Pada tanggal 27 Oktober 1646 Gubernur Gerard Demmer membebaskan pejuang-pejuang Kapahaha yang ditawang di Teluk Sawatelu. Pembebasan tawanan perang kapahaha diadakan dengan pesta perpisahan. Maka pada acara pesta perpisahan ini dipentaskan tari-tari adat yang bernafas sejarah dengan nyanyian lagu-lagu kapata sejarah dan turut pula dengan serombongan pemuda kapahaha mempertunjukan tari Sapu Lidi.

Pada saat itu para malesi-malesi yang bertarung dalam perjuangan perang Kapahaha dari pihak Pata Siwa, Pata Lima maupun suku Bugis Makassar sangat tertarik dengan tari tersebut dengan luka-luka berdarah selalu membangkitkan semangat para pejuang.

Setelah selesainya acara pesta perpisahan, maka dengan tekad bersama dengan tiga Malesi sebagai pimpinan dari tiga sawat atau rombongan masing-masing hendak kembali pulang kedaerahnya masing-masng yaitu; jurusan Huamual,Buru dan sekitarnya,Iha Ulupalu di Saparua, Hulawano di Nusalaut, satu sawat menuju Seram Kaibonu, Tihulele, Latu, Tamilou dan Manusela. Ada juga Malesi-Malesi dari luar Maluku yang disebut suku Mahu diantaranya Bugis Makassar dll.

Perpisahan sangat berkesan dengan pekikan-pekikan dan cucuran air mata serta sumpah setia dengan satu ikrar dan menetapkan atraksi Sapu Lidi menjadi tradisi adat dan membudaya disepanjang masa, diulang tahunkan setiap 7 syawal. Pada saat itu pula digelarkanya Istilah “Hausihu” atau kobaran Api dengan kata lain “semangat berapi-api” kepada bekas pejuang Kapahaha yang tetinggal hingga saat ini dengan nama Negerinya Morella.<rusda>