Adat

Barainella, Tuhe, Metten, Hitti

Barainella, Tuhe, Metten, Hitti

S7303001

Pengambilan Obor Telukabessy Di Benteng Kapahaha

Pengambilan Obor Telukabessy Di Benteng Kapahaha

Iklan

Lisa e Haulala Lisa e Makana

Gerbang Kerajaan Morella-Kapahaha

Gerbang Kerajaan Morella-Kapahaha

MENGHADIRKAN KARAENG DI KAPAHAHA

MENGHADIRKAN KARAENG DI KAPAHAHA

Agustus lalu, di saat negeri ini memperingati kemerdekaan, saya bersilaturrahmi ke rumah Pemangku Adat Kerajaan Gowa, Andi Kumala Andi Idjo Karaeng Serang. Rumahnya terbilang sederhana untuk ukuran seorang pemangku adat. Orang tua Andi Kumala adalah Raja terakhir Kerajaan Gowa, Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin yang meninggal tahun 1978 di Jongaya Makassar.

Dalam silaturrahmi tersebut, kami membahas dua topik tentang hubungan  Gowa dengan Maluku. Pertama ketika perang Wawane dan Perang Kapahaha, dan Kedua, ketika penyelesaian konflik Maluku, Gowa menjadi tuan rumah penyelesaian dengan perjanjian Malino-nya.

Kami banyak membincang kehadiran pasukan Kerajaan Gowa di Maluku, pada masa perang melawan Belanda di Abad 17.  Kemudian juga menyinggung acara Pukul Manyapu yang berawal dari atraksi sebelum perpisahan dengan para pejuang Kapahaha. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 27 Oktober 1646 di pantai Sawatelu Negeri Hausihu  –  nama negeri lama Morella.

Kehadiran saya di Sungguminasa Gowa, dalam rangka mengundang Pemangku Adat Kerajaan Gowa dan anak cucu tiga orang Karaeng (Karaeng Jipang, Karaeng Tulis dan Daeng Mangapa) untuk hadir pada perayaan Pukul Manyapu.  Di samping itu juga membuka silaturrahmi dengan Kerajaan Gowa. Karena selama dua tahun terakhir, kegiatan Pukul Manyapu Morella selalu dihadiri oleh Pengurus  Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) sebagai representasi dari anak cucu tiga orang Karaeng yang berperang di Kapahaha.

Undangan ini disahuti. Sang Pemangku Adat sangat bersuka cita untuk hadir pada perayaan Pukul Manyapu 7 Syawal.

SEKILAS JEJAK KARAENG

Di tengah perbincangan, ketika saya menyebut beberapa nama pimpinan pasukan Kerajaan Gowa  – antara lain; Karaeng Jipang, Daeng Mangapa, dan Karaeng Bontonompo, – Sang Karaeng (Andi Kumala), berdiri mengambil sebuah buku Inseklopedia Kerajaan Gowa dan memperlihatkan catatan tentang keterlibatan “Pasukan Karaeng” di berbagai daerah nusantara bahkan ke luar nusantara.

“Nama yang disebut tadi, seperti Karaeng Jipang, Karaeng Bontonompo, Daeng Mangapa, kalau masa  sekarang,  mereka minimal setingkat Brigjen”. Kata Sang Karaeng.

Wah,…. mencengangkan. Betapa besar kekuatan yang dikirim oleh Kerajaan Gowa ke Benteng Wawane yang saat itu panglima perangnya adalah Kapitan Kakiali. Pasukan yang dikirim berjumlah sekitar 400 orang. Mereka adalah pasukan terbesar dari luar Jazirah Leihitu, ditambah dengan pimpinan sekaliber Karaeng Jipang dll.  Hal ini sekaligus menunjukkan kontribusi dan perhatian besar Kerajaan Gowa terhadap Maluku.

Proses kedatangan diawali oleh permintaan Kapitan Kakiali pada Raja Gowa, I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga ri Papang Batuna (berkuasa tahun 1639 hingga 1653) untuk membantu perang melawan Belanda. Kemudian disusul dengan pengiriman cengkeh dalam jumlah relatif besar sebagai biaya bagi pasukan Karaeng.

Dukungan Karaeng sangat berarti pada Perang Wawane (Hitu I) dan menjadi sandungan bagi Belanda. Sehingga Belanda menggunakan politik de vide et impera dan membayar seorang berkebangsaan Spanyol untuk membunuh Kapitan Kakiali di saat tidur.

Setelah Kapitan Kakiali terbunuh dan Wawane jatuh, pasukan Karaeng berpencar di hutan-hutan Leihitu.  Mereka kemudian bersama Kapitan Tomol, Kapitan Patiwane, Imam Rijali, dan sejumlah pasukan lain bergabung ke Kapahaha. Kapahaha adalah benteng terakhir. Bukit batu terjal sesuai namanya, Kapa = tajam, haha = di atas.  Terletak sekitar 3,5 Km sebelah Utara Negeri Morella. Saat itu Panglima Perang Kapahaha adalah Kapitan Telukabessy.

Menurut Imam Rijali, setelah rombongan tiba di Kapahaha, pembagian pos-pos pertahanan diatur. Pasukan Karaeng bergabung dengan Kapitan Patiwani dan Kapitan Tomol menjaga pos Iyal Uli. Pos pertahanan ini dekat Benteng Kapahaha.

Sebelum Kapahaha jatuh, Karaeng Jipang dan Bontonompo bersama sebagian pasukannya kembali ke Gowa pada musim timur.

Perang Kapahaha berakhir ketika Belanda berhasil mengetahui satu-satunya jalur menuju Benteng Kapahaha. Pada malam harinya, mereka melakukan serangan mendadak.  Pasukan Kapahaha kucar kacir. Kapahaha dibumihanguskan. Para pejuang banyak gugur. Sebagian yang selamat ditawan dan sebagian lainnya berhasil lolos, termasuk Kapitan Telukabessy, dan Imam Rijali.

Setelah perang berakhir,  jejak pasukan Karaeng hingga kini kurang terungkap.  Informasi yang ada hanya seputar cerita sebuah batu di muara sungai Moki – sekitar 8 Km dari Morella ke arah Liang – yang biasa disebut “Batu Tete Bugis”. Selain itu, hanya menjelang acara Pukul Manyapu 7 Syawal, dilakukan pendekatan ke KKSS untuk mengahdiri acara mewakili 3 Karaeng.

BERSAMA MENGUSIK SEJARAH

Perbincangan dengan Pemangku Adat Kerajaan Gowa di atas,  membangun mimpi indah saya.

Karena di Kabupaten Gowa sendiri ada rencana melakukan temu turunan Karaeng sedunia. Idenya agak wah,… Tapi bila ditilik pada langkah-langkah persiapan termasuk pagelaran Festival Kraton di Gowa pada bulan November nanti, maka  rencana ini sangat mungkin terlaksana. Agenda ini perlu disahuti sebagai upaya menapaktilas perjalanan sejarah, termasuk sejarah keterlibatan Pasukan Karaeng di Perang Wawane dan Kapahaha.

Lalu, dalam konteks  kekinian, apa yang dapat diambil oleh masyarakat Maluku terutama bagi wilayah-wilayah yang pernah berperang bersama melawan penjajah.

Jelas, bahwa jejak kebesaran Kerajaan Gowa dan pengaruh tokoh asal Sulsel secara umum di pentas nasional sekarang jadi pertimbangan. Tampilnya Jusuf Kalla sebagai Wapres, Riyaas Rasyid, Andi Alfian dan Rizal Mallarangeng, Syahrul Yasin Limpo – Gubernur Sulsel keturunan Karaeng Bontonompo – serta  sederet nama  orang Sulsel memberikan kontribusi signifikan yang membawa harum nama Indonesia Bagian Timur, menjadi peluang yang perlu disikapi sebaik mungkin.

Minimal, perhatian yang diawali dengan keterpanggilan membangun sejarah bersama, dapat digunakan untuk mengangkat sejarah kebesaran para kapitan yang tertinggal jauh dibanding dengan Pahlawan Maluku; Kapitan Pattimura dan Martha Christina Tiahahu.

Lalu, bagi masyarakat Maluku, rencana kehadiran Pemangku Adat Kerajaan Gowa di pentas Pukul Manyapu merupakan kehormatan besar. Perayaan budaya ini penting untuk dikemas cantik dan menarik dengan tetap berdasar akurasi sejarah perjuangan. Karena dengan event adat berlatar belakang sejarah yang dikemas “cantik”, perasaan memiliki sejarah akan menjadi pendorong membangun event yang lebih “menasional” di kemudian hari.

Wawane dan Kapahaha (Perang Hitu I dan II) adalah perang berskala besar yang melibatkan Kerajaan Gowa, Ternate, Kerajaan Mataram (Jogja) dan hampir seluruh perwakilan dari wilayah Maluku. Masa perangnya juga lebih dari 13 tahun (Wawane tahun 1633 – 1643 dan Kapahaha tahun 1637 -1646).

Di sisi lain, kemampuan mengorganisir event besar masih menjadi kendala internal di Morella. Kelemahan internal ini penting dijadikan warning dalam  mengemas event secara baik, persiapan lebih matang,  apalagi dengan rencana kehadiran Sang Karaeng.

Sedang bagi KKSS dan masyarakat Maluku asal Sulsel saatnya untuk lebih proaktif melakukan pendekatan guna mengambil peran dan bahu membahu membuka simpul-simpul kerjasama yang lebih baik dengan negeri-negeri yang memiliki sejarah bersama.

Karena dengan menghadirkan Karaeng, kita sebenarnya sedang menata ulang pondasi sejarah bangsa yang kokoh.

Allahu a’lam.

Sumber :

Fuad Mahfud Azuz

Ketua YPI Al-Wathan Ambon

Sekretaris Kerukunan Masyarakat Morella (KMM) Ambon.

Tulisan ini pernah dimuat di Ameks tanggal 22 september 2008.

Cinta

Jangan Katakan Cintamu Padaku
Karena Aku Takkan Memahaminya

Jangan Mengaharapkan Cintaku
Karena Aku Takkan Memberinya

Tapi Ajarila Aku..
Akan Arti Sebuah Cinta Dengan Penuh Cinta

Maka Aku Akan Memahami Cintamu
Cintailah Cintamu Dengan Sepenuh Cinta

Pupuklah Cintamu Hanya Pada Satu Cinta
Jagalah Cintamu Dengan Pagar Cinta

Lindungilah Cintamu Dari Perampok Cintak
Dengan Tembok Cinta…..

Cintailah Apa Yang Kau Cintai
Hanya Karena Allah Sang Pemilik Cinta

by; R. Leikawa

Aku

Aku ini sebagai pribadi,berarti inti hidupku tidak dimiliki 0leh siapa pun,selain Aku sendiri…

Sebagi pribadi aku tak dapat terpakai oleh Orang lain,sebab Aku adalah tujuanku sendiri……

Jejak Islam Di Negeri Morella

Jejak Islam Di Negeri Morella

Negeri Morella sebagai satu negeri adat yang terletak di daratan jazirah Leihitu memeliki latar belakang sejarah dan budaya yang sangat menarik untuk dikaji, salah satunya  adalah dari sudut pandang perkembangan islam. Negeri Morella adalah salah satau daerah penyeberan Islam di wilayah jazirah leihitu, hal ini terbukti dengan adanya peninggalan-peninggalan peradaban islam yang masih dapat ditemukan sampai saat ini.

Masuknya agama islam di negeri Morella dimulai sejak abad Ke-8 M yang dibawakan oleh penyiar islam dari timur tengah. Karena lepas dari percaturan politik yang terjadi pada zaman Mu’awiyah di Timur Tengah, para Mubaligh telah keluar membuka ekspansi dakwahnya, baik yang terpancar melalui gaungnya kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara maupun dinasti Tang di Negeri Cina.

Negeri Morella dahulunya terbagi menjadi empat negeri lama yang berada dikawasan pegunungan negeri itu, yakni Iyal Uli, Ninggareta, Putulesi dan Kapahaha. Pada masa itu Iyal Uli dijadikan sebagai pusat Keagamaan sementara Kapahaha (Benteng Kapahaha) dijadikan sebagai pusat pemerintahan.

Pesatnya perkembangan islam di negeri Morella pada waktu itu, menjadikan masyarakatnya sebagai masyarakat yang religius dan taat beribadah. Pada saat terjadi perlawanan terhadap Bangsa Kolonial Belanda di benteng Kapahaha, semangat perlwanan yang dipimpin oleh Kapitan Telukabessy (Ahmad Leikawa) pada waktu itu sangat berapi-api karena dipengaruhi oleh ajaran Jihad fi Sabilillah yaitu jihad di jalan Allah melawan para kaum Kafir (Belanda), hal ini sebagaimana yang diceritakan  oleh Imam Rijali dalam Hikayat Tanah Hitu.

Sementara itu, karena pusat keagamaan pada saat itu berada di Negeri Lama Iyal Uli yakni ± 2,5 KM arah selatan negeri Morella, maka sampai saat ini di negeri Morella para pengrus masjid atau dalam istilah masyarakat Negeri Morella disebut “Parenta” seperti Iamam, Khatib, Modin dsb, adalah orang-orang dari keturunan leluhur yang pernah tinggal di negeri lama Iyal Uli yakni dari Marga Latulanit, Lauselan, Wakang, Tawainlatu dan Pical.   

Jejak perkembangan islam di Iyal Uli sebagai pusat keagamaan pada masa itu masih dapat ditemukan sampai saat ini yaitu berupa pondasi masjid tua Iyal Uli dan “Halwat” yaitu tempat yang digunakan oleh para penyiar islam untuk meminta petunjuk Allah. Selain itu, beberapa mushaf Al-Qur’an tua yang ditulis dengan tangan juga masih dapat ditemukan sampai sekarang.

Peninggalan-peninggalan  tersebut sampai saat ini memang masih dapat dilihat dengan mata, namun kondisinya kian hari semakin meperihatinkan. Lingkungan yang kurang menudukung baik dari fakor alam maupun manusia membuat benda-benda tersebut hampir punah. Hal ini tentunya sangat disayangkan  mengingat tingginya nilai histories yang dimilikinya. Sampai saat ini memang belum ada langkah-langkah penanganan khusus dari pihak-pihak terkait utamnya pemerintah terhadap benda-benda bersejarah tersebut, meskipun demikian langkah-langkah perawatan seadanya sampai kini masih tetap dilakukan oleh masyarakat meskipun hal itu tidak terlalu maksimal mengingat keadaan masyarakat yang serba terbatas baik dari segi materil maupun imateril.

Harapan kita semoga saja kesadaran semua pihak untuk tetap melestarikan benda-benda bersejarah tersebut tidak pudar dimakan zaman, agar ia akan selalau bercerita kepada generasi mendatang atas perjuangan dan pengorbanan leluhur serta spirit islam yang pernah membangkitkan negeri ini. Amin.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!