Waimital Dan Kenangan

Sore itu langkah terayung dengan asa
Menuju tempat peristirahatan anak – anak yang suka bergembala
Aku merasakan sentuhan angin yang rama menyapa tubuhku
Seperti ada pelukan hangat seorang kawan
Sejenak kubiarkan pelukan itu dalam hati saja
Lalu ku penuhi rasa penarasan dengan sentuhan disetiap sudut rumah
Barangkali jiwaku bisa menyatu

Sore itu aku melihat kenangan dimata anak-anak yang telah dewasa
Ada bahagia, sedih, rindu dan harapan untuk membenah
Aku juga menyaksikan tawa seorang wanita yang mengaku saksi para gembala sapi
Sepertinya aku mengerti, bahwa itu bukan tawa biasa
Tapi rindu bercampur bahagia  yang telah lama dinanti
Dia hanya menipu mata ini dengan senyum lebar
Supaya Kristal-kristal bening itu tidak membasahi wajahnya

Sore itu aku di Waimital dan alam saksinya
Aku tak punya kenangan masa lalu disitu
Tapi akan jadi kenangan untuk masa mendatang
Seperti halnya anak-anak yang pernah tersesat di hutang
Telah membuat sejarah yang disaksikan saat ini
Meski tak banyak yang tahu, tapi aku mengerti arti kerinduan
Waimital dan kenangan, sebab itu kami datang.

R. Leikawa
Kapal Fery-Waipirit, 4 Juni 2016

Mengenang Bapak Yang Telah Tiada

Aku rindu lelaki itu
Lelaki yang mencintaiku
Menjelang senja Dia selalu terlihat menawan
Dengan sarung, baju koko dan peci putih
Aku rindu lelaki itu
Lelaki yang menyanyangiku
Di setiap subuh Dia yang duluan bangun
Bersiap ke kebung untuk pertahankan hidup keluarganya
Aku rindu..
Rindu sekali..
Lelaki tua itu..
Bernama Bapak.

Pada saat saya buat tulisan ini, mataku tak sanggup menahan cairan yang sejak tadi berkaca, hati ini begitu berat menanggung beban kerinduan yang entah pada siapa harus saya curahkan, kecuali pada Tuhan hanya Doa yang bisa dipanjatkan.

Saya juga bingun memulai dengan kalimat apa, biarlah mengalir apa adanya, sebab dalam tulisan ini saya hanya ingin mengenang dan menyampaikan kerinduanku pada seorang ayah yang telah tiada.

Dirumah kami memanggilnya Bapak, lelaki tangguh itu katanya pernah sukses di tahun 80-an, mungkin saya satu-satunya anak yang tidak menikmati kekayaan yang pernah bapak miliki pada saat itu.

Tapi saya tidak menuntutnya, karena cinta dan kasih sayang yang diberikan pada saya sudah cukup dari segalanya. Bapak itu tidak pernah pelit, buktinya saat beliau berada pada puncak kejayaan bisa membantu banyak orang. Tapi ya namanya hidup tidak mesti harus diatas kan? Setelah usahanya bangkrut, bapak kembali mengurus kebung pala, cengkih, manggis, langsat coklat, beberapa pohon kopi dll, Kebung dan tanah warisan bapak cukup luas, entah berapa ukurannya saya kurang tahu pasti, maklumlah karena saya anak perempuan paling bungsu kurang peduli dengan hal-hal begituan. Sesekali juga bapak dengan perahunya kelaut untuk menangkap ikan meski harus menerjang ombak, melewati angin dan menabrak hujan, namun semangatnya tak pernah mati.

Bapak Yang Baik Hati

Yang paling saya ingat dulu waktu SD setiap kali mau panen hasil kebung, bapak sering bilang nanti ajak teman-teman sekolah ya, senangnya saya bisa ngajak teman-teman se-kelas, bahkan sampai berada di tingkat SMA pun demikian, kalau bukan teman-teman sekolah yang diajak, Bapak itu pasti ngajak anak-anak tetangga buat panen bareng. Jadi semuanya bisa merasakan hasil panen kami.

Tahun 2003 saya masuk Perguruan Tinggi tepatnya di Universitas Pattimura Ambon, Bapak sebenarnya pengen saya ngambil jurusan Bahasa Inggris alasanya karena beliau ingin salah satu anaknya jadi Dosen Bahasa Inggris, tapi saat itu saya sedikit keras kepala tidak mau nurut kemaun Bapak. Karena saya pengen kuliah di Makassar biar bisa ngambil jurusan Sastra Indonesia, sejak dulu cita-cita saya pengen jadi Sastrawati, namun karena kakak-kakak saya juga sudah tidak tinggal dirumah, ada yang telah menikah, ada juga yang sibuk kerja dan satu kakak saat itu masih mahasiswa tingkat akhir , jadinya tinggallah kami bertiga saja, sehingga saya tidak diijinkan untuk keluar kota. Maka saya pun mengambil Jurusan Kimia Fakultas MIPA, meski tidak begitu mendapat respon dari Bapak, tapi saya selalu meyakinkannya bahwa kelak nanti saya pasti bisa membuatnya bangga.

Sejak menjadi mahasiswi saya jarang pulang kerumah, karena lebih banyak aktif di beberapa organisasi Intra dan ekstra kampus, selain sibuk jadi aktivis kampus saya juga sibuk mengajar di Yayasan Al-Wathan Ambon dan juga memberi kursus computer pada Yayasan Puslatmi Inovasi milik Pengurus Muhammadiyah Maluku. Kesibukan itulah yang menggangu kuliah saya, hingga saya mengalami keterlambatan untuk menawarkan mata kuliah wajib KKN (Kuliah Kerja Nyata).

Tahun 2008, barulah saya bisa melaksanakan KKN, salah satu mata kuliah yang menjadi prasyarat untuk mengusulkan proposal penilitian. Hal itu saya sampaikan pada Bapak, dan tahukan anda, saya melihat pancaran kebahagiaan tergambar di raut wajahnya, beliau tersenyum bahagia dan langsung mengajak saya belanja perlengkapan KKN, itu untuk pertama kalinya saya diajak oleh Bapak jalan-jalan sambil belanja, saking bahagianya bapak itu sampai bilang gini, Rus mau perlu apa untuk KKN bilang saja, nanti Bapak beli semuanya”,. Ach saya begitu terharu, padahal lokasi penempatan KKN belum juga ditentukan oleh pihak kampus.

Bapak begitu semangatnya membeli keperluan saya selama sebulan. Mungkin dalam benaknya saya akan ditempatkan pada Kabupaten yang jauh dari pusat kota, ech ternyata hasil yang kami lihat dari deretan daftar mahasiswa KKN, nama saya tercantum di wilayah Teluk Ambon saja, tepatnya Desa Nania yang tak jauh dari Kampus kami, kurang lebih 20 menit lamanya jika menggunakan angkutan umum.

Satu hal lagi yang paling saya ingat kebaikan Bapak itu, jika saya pulang kerumah sering ngajak teman-teman aktivis untuk main bahkan sampai nginap, Bapak itu senang sekali kalau saya datang ngajak teman, terkadang beliau suka nitip pesan ke teman-teman, “nanti jagain rus e”,. Nah kayak gitu cara Bapak perlihatkan cintanya, beliau suka nitip saya ke teman-teman biar saya dijagain. Kadang sebel juga dianggap seperti anak kecil. Meski demikian, Bapak, Ibu dan Kakak selalu memberi dukungan pada saya.

Jadi Fansnya Bapak

Usai menyelesaikan KKN saya tidak langsung mengusulkan proposal penelitian, jiwa dan pikiran saya masih muter-muter diluar kampus, buat kegiatan organisasi, punya kerja sampingan di sekolah dan lembaga kursus komputer. Karena saya tipe orang yang tidak bisa jadi mahasiswa saja, saya suka hal-hal baru penuh petualangan. Hingga pada tahun 2010 saya coba lagi profesi baru, ya hitung-hitung cari pengalaman, kebetulan ada salah satu media cetak di Ambon yang buka lowongan kerja, namanya Korang Spektrum Maluku, Alhamdulillah saya diterima, dan sejak saat itu Bapak mulai suka dengan tulisan saya.

Kalau pulang kerumah, Bapak itu pasti nanya, “mana korang?, mana beritamu?”, dan saya pun menunjuk di halaman sekian, padahal tulisan saya tidak begitu bagus, karena masih jadi pemula juga, mungkin bapak suka cara saya, beliau juga memberi dukungan, jika ada hal-hal baru Bapak sering bilang,coba kamu buat tulisannya lalu muat di media. Bapak tidak hanya memberi dukungan pada hoby saya saja, tapi juga memberi dukungan dan kepercayaan pada siapa saya berteman, Kalau ada teman-teman wartawan dan fotografer yang main kerumah, Bapak pasti senang, bahkan pernah bilang teman-teman saya itu istimewa (ach Bapak itu lucu ya..?).

Pesan Bapak Yang Tidak Terlupakan

Waktu pun berlalu, sampai tahun 2011 saya dapat gelar Sarjana Sains (S.Si.,), Dua bulan setelah digelarnya acara wisuda saya ditawarkan untuk kerja pada Unit Pengelola Kegiatan (UPK) PNPM Mandiri Perdesaan Kecamatan Leihitu sebagai Sekertaris, awalnya saya agak ragu untuk terima tawaran tersebut, namun setelah saya diskusikan dengan kedua orang tua ternyata mereka menyetujuinya, saat itu Bapak berpesan untuk bekerja dengan hati, jujur serta utamakan hak orang banyak. Saya pun langsung mengajukkan surat pengunduran diri saya sebagai wartawan dari Korang Spektrum Maluku.

Kurang lebih setahun saya bekerja sebagai sekertaris UPK di PNPM Mandiri Perdesaan, saya dipromosikan oleh Fasilitator untuk bisa ikut seleksi Asisten Manajemen Informasi Sistem di PNPM Mandiri tingkat Kabupaten, alhasil saya lolos juga dan pada September 2012 saya langsung dapat Surat Perintah Kerja (SPK) di Kabupaten Maluku Tengah. Saya pun harus meninggalkan orang tua dan teman-teman di Ambon.

Beruntung hanya 11 bulan saya bertugas di Kabupaten Maluku Tengah, karena pada saat itu saya kembali di promosikan oleh seorang teman yang kebetulan adalah salah satu penanggung jawab dari PT. Innerindo sebagai Perusahaan Penggelola Administrasi untuk Kantor Konsultan PNPM Generasi Sehat dan Cerdas Provinsi Maluku.

Alhamdulillah saya bisa kembali, beraktivitas seperti dulu, kerja dan berkomunitas di wilayah Kota Ambon, namun saya lupa untuk kumpul dengan keluarga, begitu egoisnya saya saat itu, karena jarang pulang ke rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor serta menyalurkan hoby bersama teman-teman.

Seiring berjalannya waktu, Ibu saya jatuh sakit dan sering dibawah ke dokter, saat itu barulah saya meluangkan waktu untuk pulang ke rumah. Suatu ketika Bapak memanggil saya untuk membicarakan kondisi Ibu, banyak yang kami bicarakan, namun yang paling saya ingat saat itu, Bapak berpesan agar saya bisa luangkan waktu untuk pulang kerumah jika tidak ada kerjaan di kantor.

“ Rus, kalau tidak ada kesibukkan di kantor pulang sedikit ke rumah, karena rus bisa jadi hiburan di rumah untuk mama”, begitulah permintaan Bapak, mendengar kata-kata itu, hati ini seperti teriris, entah sudah berapa banyak kesempatan yang terlewati, selama ini hanya memikirkan diri sendiri mengejar karir, melakukan hoby dengan teman-teman, meskipun ada banyak hal yang membuat mereka bangga, namun tanpa disadari selama ini saya telah mengabaikan mereka.

Pesan Bapak untuk selalu pulang kerumah, sebenarnya bukan karena Ibu yang sering sakit, namun saya yakin bahwa Bapak juga merindukkan anak-anaknya untuk selalu berkumpul dirumah. Hingga pertengahan tahun 2015 bapak jatuh sakit, beruntung kakak perempuan saya yang sulung adalah seorang Bidang sehingga orang tua kami dengan mudahnya bisa dirawat.

Saat-saat Terakhir Bersama Bapak

Desember 2015, penyakit bapak mulai kambuh, kali ini benar-benar mengkhuatirkan kami sekeluarga, bahkan saudara-saudara Bapak terpaksa harus menginap dirumah untuk menemani Bapak yang sakit. Pada tanggal 11- 14 Desember 2015 lalu, saya sedang berada di Jakarta untuk mengikuti Kopi Darat terbesar Para Blogger di Indonesia yang di laksanakan oleh Kompasiana.com salah satu media warga, kegiatan bergensi itu dinamai Kompasianival atau Festival Kompasianer, sebenarnya kegiatan itu hanya berlangsung selama dua hari terhitung sejak tanggal 11-12 Desember 2015, namun kami sengaja menambahkan waktunya untuk beberapa keperluan yang harus diselesaikan di Jakarta.

Tepat malam rabu (14 Desember 2015) telpon genggam saya berbunyi, rupanya ada panggilan dari nomor kakak perempuan, setelah saya angkat, pertanyaan pertama yang ditanyakan melalui telpon genggam itu adalah kapan pulan ke ambon?, dan beginilah percakapan kami:

Kakak ; “ Rus kapan pulang?, bapak sekarang sakit keras, dari tadi tanya-tanya rus terus,”

Saya : “besok pagi sudah pulang kok”, bapak Tanya gimana?”, saya kembali melontarkan pertanyaan.

Kakak : “bapak Tanya, kenapa rus belum pulang?, kapan rus pulang?”,

Saya : “iya, tolong bilang bapak, besok jam 8 pagi beta sudah di Ambon, karena pesawat dari Jakarta jam 3 waktu Jakarta, di ambon jam 5 subuh.”.

Kakak : “iya, kalau sudah di Ambon, langsung pulang ke rumah e?”. Tegas kakak untuk mengingatkan saya kembali.

Saya : “iya, nanti kalau sudah sampai Ambon, beta langsung ke rumah”.

Dan kami pun mengakhiri percakapan itu, tidak terasa air mata saya langsung berderai di pipi, ingin segera pulang ke Ambon menemuinya. Pada saat itu saya dan beberapa teman yang dari Ambon baru saja melakukan kunjungan ke Kantor Kompas Gramedia Jl. Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Dalam perjalanan menuju tempat penginapan perasaan ini benar-benar sudah tidak enak. Karena ingin segera pulang ke Ambon. Entah kenapa tangan saya pun mulai memencet tombol-tombol telpon genggam, maka jadilah sebuah puisi pendek:

Ayah.. Tunggulah sebentar
Aku akan pulang menemuimu
Ayah… Sabarlah sebentar
Karena malam ini akan berganti pagi
Kita akan bertemu dan bersua
Ayah …Tunggulah dirumah
Karena aku pasti datang
Ada oleh-oleh untukmu, ada salam untukmu
Kau pasti senang, sebab ini salam Presiden
Ayah.., Jangan sebut namaku terus didepan mereka
Karena itu membuatku gelisah Ayah…
Tunggulah sebentar
Aku akan pulang menemuimu
Jakarta, 14 Desember 2015.

Usai memencet tombol telpon gengam saya, barulah perasaan ini legah, tak perduli kalimat yang bagus untuk penyusunanya, namun setidaknya saya sedikit tenang. Bahkan dalam diam pun hati ini terus berdoa untuk kesembuhan kedua orang tuaku.

15 Desember 2015, 08.00 WIT kami tiba di Ambon dengan selamat, saya berencana untuk langsung pulang kerumah, namun 10 menit setelah keluar dari bandara Pattimura saya menerima panggilan lagi dari kakak, dalam percakapannya di telpon dia mengabarkan bahwa bapak sudah dilarikan ke Rumah Sakit Umum Tulehu. Akhirnya rencana pun berubah, semua bawaan dari Jakarta saya taruh di rumah kontrakan dan bergegas menemui Bapak di Rumah Sakit. Setelah sampai dirumah sakit, melihatnya sedang tertidur pulas, namun kakak membangunkannya untuk memberitahu kepulanganku, beliau pun langsung bangun dan duduk, kami sempat bercakap-cakap, dan seperti biasa yang sering saya lakukan di rumah kalau lama tidak bersua bersama Bapak Ibu adalah bercerita tentang aktivitas saya diluar, ya semacam laporan perjalanan dinas gitulah kalau di kantor-kantor. Cuma bedanya laporan ini disampaikan secara lisan.

Melihat kondisinya yang sangat lemah, kurus dan kulit yang sudah keriput, membuat hati ini tak sanggup menahan kepedihan. Namun saya mencoba untuk tetap tegar dihadapannya, saya pun bercerita tentang aktivitas saya di Jakarta selama beberapa hari itu, berharap dengan cerita saya bisa membuatnya bahagia meskipun masih dalam kondisi sakit. Tanpa basa-basi saya langsung menyodorkan foto di Handphoon saya sambil bertanya ke Bapak :

Saya : “Bapak kenal orang ini yang di foto?”

Bapak : “Yang mana”, Tanya bapak.

Saya : “itu yang lagi duduk, pakai kemeja putih”

Bapak : “itu kayak Jokowi?”, Tanya bapak namun sedikit ragu, dalam hati saya senang, karena penglihatan bapak masih jelas.

Saya : “kalau yang lagi bicara di depan mix, pakai baju warna pink, bapak kenal..??”

Bapak : “itu sapa?”, bapak kembali bertanya dengan ragu, namun saya yakin bapak pasti mengenal perempuan berbaju pink yang ada pada foto tersebut.

Saya : “hhhhmmm, itu beta yang pakai baju pink, lagi bicara depan Jokowi, di Istana Presiden”, sambil meyakinkan bapak.

Bapak : “hehehe…”, bapak hanya tertawa sedikit, senyum sedikit sambil keherangan.

Saya : “ iya benar itu beta yang pakai baju warna pink, lagi bicara di depan Jokowi di Istana Presiden”, sengaja saya ulangi meyakinkannya, beharap bapak bisa percaya.

Alhamdulillah, bapak pun percaya sambil menghela nafasnya dalam-dalam, mungkin itu pertanda beliau bangga dan senang atau sesak nafas, entahlah, tapi saya melihat raut wajah yang tadinya sayu berubah menjadi ceria.

Cuma empat hari bapak dirawat di Rumah Sakit Umum Tulehu, setelah itu Bapak kembali ke rumah dan saya pun beraktivitas seperti biasa.

Namun Januari 2016, penyakit Bapak kambuh lagi, padahal kondisi Bapak sudah sedikit baikan, apalagi dengan kepulangan dua kakak perempuan saya, yang satu dari Temanggung Jawa Tengah pulang bersama keluarga kecilnya, dan yang satunya lagi dari Ternate Maluku Utara, sehingga rumah kami kembali diramaikan oleh penghuni baru yakni cucu-cucu Bapak yang semakin bertambah. Saya kira kondisi bapak akan sembuh seperti ibu yang sudah 90% baikan setelah rumah kami dipenuhi oleh anak dan cucu-cucu mereka.

Tanggal 23 Januari 2016, bapak kembali dilarikan ke Rumah sakit Umum (RSU) Dr. Haulussy Ambon, dan sempat dirawat pada ruang Unit Gawat Darurat (UGD) selama empat jam, barulah dipindahkan ke ruang Paru-Paru untuk melanjutkan rawat nginap. Selama di RSU saya tidak pernah nginap untuk menemaninya, karena sudah ada kakak yang menjaganya, saya hanya bisa menemaninya usai jam Kantor sampai pukul 20.00 WIT saja. Sama seperti di RSU Tulehu, bapak tidak betah lama-lama di Rumah Sakit, karena beliau sudah ingin pulang ke rumah, sehingga pada tanggal 26 Januari 2016, kakak saya meminta pada pihak RSU agar bapak dipulangkan dulu.

Tanggal 28 Januari 2016, tepat pukul 21.00 WIT saya mendapat beberapa panggilan melalui telpon genggam dari kakak laki-laki, namun suara telpon tidak terdengar, getaran pun tidak terasa, dikarenakan Handphoon saya tersimpan dalam saku tas hitam yang saya bawah, saat itu juga saya lagi menghadiri jamuan makan malam di kediaman Gubernur Maluku Ir. Said Assagaf bersama Menteri Pendidikan Anis Baswedan dan tokok-tokoh yang peduli dengan pendidikan di Maluku. Saya benar-benar tidak mengetahui adanya panggilan itu, namun setelah ditelpon kembali barulah saya mengetahuinya.

Pada percakapan kami di telpon, kakak saya mengabarkan kondisi Bapak yang semakin parah, dan dia menginginkan untuk pulang kerumah malam itu juga, dan saya pun menyetujuinya.

Hari Terakhir Bersama Bapak

Pada saat sampai dirumah, keluarga Ibu dan keluarga Bapak yang lain sudah dirumah jagain Bapak bahkan ada yang zikir. Perasaan saya biasa saja tak ada firasat buruk apapun, namun keesokan harinya barulah hati ini menjadi gundah.

Jumat, 29 Januari 2016, merupakan tanggal bersejarah yang tidak mungkin terlupakan, pasalnya di hari itu merupakan hari terakhir kami sekeluarga menyaksikan hembusan nafas terakhir Bapak.

Pagi itu, sekitar pukul 09.00 WIT, saya temanin Bapak, mendengarkan semua yang beliau bicarakan, memberinya makan, membelai rambutnya yang sudah memutih, mengusap dadanya yang sering sesak bernafas, Bapak terlihat sangat kurus, hari itu saya tidak masuk kantor, pesan singkat untuk meminta ijin pada atasan sudah saya kirim via WA dan sms.

Ada permintaan aneh dari bapak, katanya ingin dimandiin karena sebentar lagi Bapak mau pulang, berkali-kali Bapak ngomong mau pulang, “sedikit lagi beta mau pulang”, begitu ungkapnya pada kami, bahkan beliau meminta saya mencukur rambutnya sebelum pulang, namun permintaan itu tidak saya indahkan, karena mungkin beliau lagi panas tinggi. Sedang kami hanya bisa membersihkan tubuh Bapak dengan air bersih dan sabun mandi, dari kepala hingga kaki, setelah itu kami masih sempat taburi bedak ditubuhnya sesuai anjuran dokter, agar tubuh bapak terasa segar dan wangi.

Waktu berlalu, hingga pukul 14.00 WIT, orang-orang baru saja menyelesaikan Jumatan, dan kami dirumah sedang mengaji dan zikir. Hingga sekitar pukul 21.45 WIT, bapak sudah berada pada masa-masa kritis, kami semua mengelilinginya. Saya pun tak mau meninggalkan kesempatan itu, saya bacakan Surah Yasin disamping kanan Bapak, sementara Paman saya juga melantungkan zikir disampingnya. Sejak siang itu, Bapak memang sudah melapalkan asma Allah Laaillaha Ilalallah berkali-kali keluar dari mulut bapak, meski tidak begitu jelas.

Sambil membacakan Surah Yasin, mata saya selalu melirik pada tangan Bapak, hingga binar-binar air mata menghalangi pandangan, tulisan arab itu seperti tidak jelas karena mata ini sudah berair, suara lantang saya menurung pelang karena tak bisa menahan kesedihan, saya tak sanggup untuk mengangkat wajah ini, air mata terus berderai membasahi pipi, namun saya tak mau berhenti bacakan kalimat-kalimat Allah. Saya terus melanjutkan Yasinan itu dengan suara terbata-bata.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan pelang mulai mengusik ruangan, tangan Bapak sudah tidak bergerak dan diangkat keatas perut layaknya orang yang tidak bernyawa, Bapak telah meninggal, dan saya masih tidak percaya, satu persatu saya bacakan ayat-ayat suci pada Surah Yasin hingga selesai barulah saya berdiri.

Nampak semua wajah pada saat itu terlihat sedih, lalu saya bertanya, “apa ini sudah selesai..?”, seorang kakak sepupu menjawab pertanyaan saya, “iya, sudah selesai?”, mendegar jawaban itu, seketika dunia ini terasa gelap sekali, melihat Bapak tertidur kaku, kami sekarang dalam hitungan detik langsung menjadi yatim sementara perempuan tua yang duduk di kursi itu menjadi janda.

Saya tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi membasahi kedua pipi ini, ingin berteriak tapi tak bisa, maka pada kamarlah saya berlari dan menangis diatas tempat tidur. Sambil bergetar tangan ini memegang telpon gengam untuk memberi kabar pada semua keluarga yang belum pulang.

Ya, Bapak telah pergi tepat hari Jumat tanggal 29 Januari 2016, pukul 22.02 WIT, saya kehilangan sebagian jiwa dan raga, saya kehilangan seseorang yang sering mendoakan kami, saya kehilangan satu pembawah rahmat, saya kehilangan satu orang tempat perolehan amal anak sholeh, saya kehilangan satu penyemangat hidup, saya kehilangan laki-laki yang mencintaiku, saya kehilangan satu hati yang hangat. Dan tinggallah satu orang tua tempat kami berkeluh kesah, tempat kami memperoleh amal, dialah ibu kami, istri bapak yang saat ini telah menjadi janda, semoga diberi umur panjang, kesehatan dan kesabaran.

Ya Allah…

Tempatkan Bapak kami disisiMU, Ampunilah segala dosa kedua orang tua kami dan berilah kami kesabaran dan kekuatan dalam menjalani setiap ujian dan cobaan. Aamiin. (RUS).

Keterangan :
Rus : Nama panggilan di rumah
Beta : Saya
*****
Tulisan ini hanya sebagai pelampiasan rindu seorang anak pada sosok Ayah yang telah tiada, Tak ada maksud untuk menyombongkan diri atau memperlihatkan kepedihan.
Salam
Ambon, 17 Februari 2016

 

Namamu Koruptor

Tak  ada lagi rasa berdosa

Atau mungkin  tak punya malu

Diam-diam kau gantungkan nama koruptor

Di jas mahal berwarna hitam

 

Awalnya tidak terlihat

Bahkan orang-orang disekitamu

Juga ikut buta dengan penampilanmu

Yang turut tersenyum lebar penuh kepalsuan

 

Oh rupanya, Tuhan berkehendak lain

Sudah waktunya namamu di perjelas

Di pertebal dan di garis bawahi

Agar rakyat tahu namamu koruptor

 

Kau yang  berwajah manis, hidupmu difasilitasi

Punya istri dan anak juga ikut-ikutan bergaya mewah

Bahkan gigi mu yang putih  itu

Juga dibersihkan dengan uang rakyat

 

Mengapa begitu bangga jadi koruptor

Merampok hak rakyat dengan tangan yang pernah berikrar

Apa karena biaya lipstik dan perhiasan perempuanmu tak cukup?

Atau karena anak-anakmu yang suka berganti mobil ber-merek?

 

Padahal di Negeri ini

Kau sudah punya segalanya

Bahkan jarang melihatmu mengantri disetiap loket

Itu karena kau sudah dipertuangkan

 

Namamu koruptor,  itu yang ku tahu

Semua hasil rampasan

Telah menjadi daging dalam tubuhmu

Semoga darah kotor itu tetap menjadi milikmu saja

Tidak mengalir pada generasi mu

 

Oleh :

R. Leikawa

Ambon, 22 Februari 2015

 

Keterangan :

Puisi ini sudah termuat pada Buku Antologi Puisi Menolak Korupsi edisi 4 Penerbit Forum Sastra Surakarta, sengaja dimuat kembali disini pada tanggal 9 Desember 2015, sebagai salah satu penolakan terhadap Korupsi di Indonesia.

9 Desember adalah Hari Anti Korupsi.

Mari Satukan Hati TOLAK KORUPSI

 

 

Misteri Pantai Namanalu (Lubang Buaya)

Pantai Namanalu-Lubang Buaya Morella

Dokumentasi Pribadi : Pemandangan Sunset di Pantai Namanalu – Lubang Buaya Morella

Blog post ini diikutsertakan dalam Kontes Blog #IniMaluku yang diadakan oleh http://www.hekaleka.org/

Pantai Namanalu atau sering juga disebut Lubang Buaya terletak di Negeri Morella Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Negeri Morella merupakan salah satu negeri adat di Kecamatan Leihitu, dengan jumlah penduduk sebesar 3.150 jiwa, memiliki beberapa pantai yang sering dikunjungi oleh wisatawan, diantaranya adalah Pantai Letang, Pantai Tanjung Setang, Pantai Namanalu (Lubang Buaya), Pantai Tilepuai, dan Pantai Moki. Kelima pantai ini memiliki keindahan dan keunikan yang berbeda, selain itu juga punya sejarah dan cerita mistik yang sampai saat ini masih diyakini oleh warga setempat.

Namun pada tulisan ini, saya hanya akan mengulas sedikit tentang Pantai Namanalu, karena belakangan banyak yang lebih sering berkunjung kesitu, hanya untuk sekedar refresing, mengabadikan foto dipinggiran pantai, atau untuk menyelam. Sebelum pantai ini dikenal banyak orang khususnya warga kota Ambon biasanya hanya beberapa para penyelam saja yang sering datang ke pantai Namanalu.

Seiring dengan perkembangan media, foto-foto keindahan bawah laut Pantai Namanalu mulai menyebar di media social, beberapa komunitas pecinta wisata pun mulai mengabadikannya di youtube dan media social lainnya.

Namun tahukan anda, bahwa pantai Namanalu yang berbentuk huruf U itu, selain memiliki keindahan bawah laut, juga memiliki kisah yang belum diketahui oleh publik.

Sejarah “Nama Pantai Namanalu”

Konon ceritanya, sekitar tahun 1600-an yang lalu, datang seorang Lelaki dari Negeri Hutumury yang bernama “Nalu”, beliau datang seorang diri untuk membantu masyarakat yang ada di Benteng Kapahaha melawan para penjajah (VOC Belanda).

Nalu yang waktu itu datang dengan perahu dan mampir disalah satu dusung yang tidak jauh dari benteng Kapahaha. Dusung itu sampai saat ini, warga Morella menyebutnya NAMANALU, yang artinya, Nama; Labuan, dan Nalu; orang pertama yang datang di dusung. Hingga kini dusun Namanalu tersebut dijaga oleh anak cucu Marga Thenu yang ada di Morella.

Pada saat perang Kapahaha, Nalu yang juga disebut warga Morella sebagai Tete Nalu, konong memiliki kekuatan dalam ilmu perang, sehingga dia diangkat oleh para petinggi adat di benteng Kapahaha sebagai Wakil Kapitan Telukabessy.

Dalam lembaga adat Saliwangi Kapahaha, Nalu bersama dengan Telukabessy berada pada Lembaga Pertahanan dan Keamanan. Pada saat setiap melakukan peperangan dirinya selalu ada dibelakang Kapitan Telukabessy.

Nalu tinggal di benteng Kapahaha selama 10 tahun, dan tidak bisa lagi kembali ke Hutumury, karena masyarakat Hutumury yang mulanya beragama Islam telah berpindah keyakinan ke Agama Kristen. Dirinya memutuskan untuk menetap di Kapahaha dan menikah disana hingga melahirkan anak cucu marga Thenu sampai saat ini di Negeri Morella.

Begitulah awal mula penyebutan nama Pantai Namanalu, terkait dengan sebutan lainnya seperti Pantai Lubang Buaya, sebenarnya sampai saat ini,  tidak ada pembuktian bahwa adanya buaya di pantai Namanalu, namun berdasarkan cerita turung temurung, warga meyakini di pantai Namanalu memiliki penjaga gaib yang kadang berwujud ikan besar atau pun seekor buaya, Waallahualam, penjaga gaib itu hanya akan muncul bagi orang yang berniat jahat atau pun ingin merusak daerah sekitar.

Jadi tak perlu takut dengan sebutan Lubang Buaya atau pun ragu untuk datang kesana, karena  tidak ada buaya di pantai Namanalu, Namun untuk menjaga kelestraian pantai dan laut adalah tanggung jawab kita bersama.

Bagi anda yang belum pernah berkunjung ke pantai Namanalu-Lubang Buaya Morella dan ingin datang kesana, maka anda hanya akan butuh waktu paling lama dua jam perjalanan dari pusat kota Ambon, selanjutnya bisa anda nikmati sunset, keindahan bawah lautnya, bisa juga memancing ikan atau pun berkemah dipinggirang pantai Namanalu. (RL).

 

Mantan Kekasih

Kenapa kau hadir lagi
Padahal diriku sudah bahagia
Tanpamu, aku bisa tersenyum manis
Menari dan berlari sesuka hati
Meski itu ku lakukan sendiri

Kenapa kau bertanya lagi
Padahal dirimu sudah terlupakan
Tanpamu, aku bisa melakukan segalanya
Kau bukan lagi alarm pengingat waktu
Bukan lagi penggetar hati

Kenapa kau menyapa ku lagi
Padahal dirimu yang memutuskan untuk pergi
Tanpamu, aku tetap menjadi diriku sendiri
Meski pernah kau banjiri duka dalam hati
Tapi bukan berarti aku mati

Duhai Mantan Kekasih
Jangan datang lagi
Karena senja akan berganti malam
Saat itu aku akan bercinta dengan rembulan
Dan bintang yang menjadi saksinya

Tak perlu merisaukan diriku
Karena esok masih ada mentari yang menantiku
Bahkan dibalik jendela, embun pagi menungguku
Dengan suka cita menyambut asa yang baru
Dan karena Tuhan tahu siapa yang tepat untukku

Oleh : R. Leikawa
Ambon-Waeheru, 3 Agustus 2015
21.00 WIT

DI BAWAH LANGIT YANG SAMA

Oleh: R. Leikawa

Pada langit yang sama kita menatap keatas
Pada tanah yang sama kita berdiri diatasnya

Namun hujan tak merata jatuh sesuka hati
Tak semua jiwa merasakan pelukan air langit

Malam itu tubuh kita basah dihujani
Namun tak semua rumput basah

Meski dibawah langit yang sama
Hujan berhak memilih tempat untuk disirami

Bahkan diseparuh perjalanan kita harus berhenti
Sedang aku sangat menikmati semilir angin malam itu

Menatap keanehan diatas sana, Tak perduli tubuhku yang basah
Dan kau yang membawaku, memilih jalan untuk pulang

Ambon, 26 Juli 2015

Pesona Tradisi Morella di Bulan Ramadhan

Hantaran Langansa di Negeri Morella

Hantaran Langansa di Negeri Morella

Kali ini saya masih bersemangat menulis tentang tradisi Ramadhan di Negeri Morella, seperti pada tulisan saya sebelumnya tentang Budaya Hadrat di Negeri Morella Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku yang merupakan perpaduan Budaya Arab, Eropa dan Melayu , nah kali ini saya ingin mengangkat lagi satu tradisi yang juga sering dilakukan pada bulan Ramadhan, yakni tradisi Malam Tujuh Lekur.

Seperti yang kita ketahui bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan mulia dan semua umat muslim di jagat raya ini memuliakannya dengan cara masing masing sesuai dengan adat dan tradisi yang sudah turung temurung.

Ada yang memanfaatkan waktunya untuk beribadah penuh di rumah dan Mesjid, ada yang suka bersedeqah dan lain sebagainya, tujuannya hanya untuk mendapat pahala semata.

Di Negeri Morella pun juga demikian, pendudukanya yang 100% muslim juga melaksanakan kewajiban-kewajiban itu. Dan juga melakukan tradisi adat yang sudah turung temurung, salah satu tradisi yang sering dilakukan tiap malam 27 Ramadhan adalah tradisi Malam Tujuh Lekur atau sering disebut Malam Langansa

Beragama Makanan dan Buah-buahan untuk Langansa di Negeri Morella

Beragama Makanan dan Buah-buahan untuk Langansa di Negeri Morella

Malam Tujuh Lekur atau malam Langansa adalah salah satu tradisi budaya Morella yang dilaksanakan untuk menyambut malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.

Sementara pengertian Langansa adalah Makanan atau buah-buahan ditaruh pada wadah, yang terbuat dari pelapah sagu (gaba-gaba), kemudian diantar ke Mesjid oleh para wanita . Malam Langansa di laksanakan pada malam 27 Ramadhan, dengan tujuan untuk menyambut Malam Lailatul Qadar.

Proses malam Langansa dimulai dari pengumpulan makanan dan buah-buahan oleh warga di setiap rumah Penghulu Mesjid, Tokoh-toko Adat dan Raja Negeri Morella (Kepala Desa), kemudian dihantarkan ke Masjid oleh para gadis dan juga Ibu-ibu usai ba’da Sholat Magrib. Setelah semuanya terkumpul di Mesjid, maka diadakan tarian dan nyanyian Hadrat oleh para pria sampai selesai, dalam syair Hadrat itu sendiri berisi zikir dan shalawat kepada Nabi, kemudian hantaran makanan dan buah-buahan tadi dibagi-bagikan lagi ke peserta hadrat dan anak-anak namun diprioritaskan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Usai proses langansa barulah dilanjutkan dengan Sholat Isya dan Tarawi.

Tarian dan nyanyian Hadrat

Tarian dan nyanyian Hadrat saat malam  Langansa di Negeri Morella

Seperti pada tulisan saya sebelumnya tentang Hadrat, bahwa Negeri Morella di setiap bulan Ramadhan, warga melaksanakan nyanyian Hadrat keliling kampung tujuannya untuk membangunkan sahur, dengan shalawat dan zikir yang dilantungkan benar-benar menghipnotis jiwa yang khusyu mengikutinya. Begitulah Rupa-rupa tradisi Ramadhan di Negeri Morella, hingga saat ini tradisi itu masih dijaga keasliannya, bahkan sampai lebaran pun masih banyak lagi tradisi-tradisi unik dan menarik lainnya, so tunggu ulasan saya berikutya. (RL)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.